PEMETAAN GEOLOGI & GEOMORFOLOGI

PEMETAAN GEOLOGI & GEOMORFOLOGI

1. KETENTUAN UMUM

1.1 Maksud dan Tujuan
1.1.1 Maksud
Maksud penyusunan pedoman ini adalah sebagai petunjuk pelaksanaan pembuatan peta geologi.
1.1.2. Tujuan
Tujuan dan pedoman penyusunan peta geologi ini untuk ketentuan umum dan persyaratan yang harus dilakukan dan langkah-langkah yang disarankan dalam pembuatan peta geologi.

1.2. Ruang Lingkup
Pedoman ini meliputi tata cara penyusunan peta geologi dalam berbagai skala beserta penjelasannya yang mencakup definisi, pengertian, bobot atau isi dan sifat-sifat teknisnya, sebagai data untuk menunjang berbagai sektor pembangunan.

1.3. Definisi
1). Peta geologi adalah bentuk ungkapan data dan informasi geologi suatu
daerah/wilayah/kawasan dengan tingkat kualitas berdasarkan skala.
2). Peta geologi menggambarkan informasi sebaran dan jenis serta sifat batuan, umur, stratigrafi, stuktur, tektonika,fisiografi dan sumberdaya mineral serta energi.
3). Peta geologi disajikan berupa gambar dengan warna, simbol dan corak atau gabungan ketiganya. Penjelasan berisi informasi, misalnya situasi daerah, tafsiran dan rekaan geologi, dapat diterangkan dalam bentuk keterangan pinggir.

1.4. Pengertian
1). Skala peta merupakan skala perbandingan jarak di peta dengan jarak sebenarnya yang dinyatakan dengan angka atau garis atau gabungan keduanya.
2). Peta geologi berskala 1:250.000 dan yang lebih besar (1:100.000 ; 1:50.000 dan seterusnya) disebut peta geologi skala besar, bertujuan menyediakan informasi geologi. Peta geologi berskala 1:50.000 menyajikan informasi yang lebih rinci dari peta geologi berskala 1:100.000 dan seterusnya.
3). Peta geologi berskala 1:500.000 dan yang lebih kecil (1:1.000.000; 1:2.000.000 dan 1:5.000.000) disebut peta geologi berskala kecil, bertujuan menyajikan tataan geologi regional dan sintesisnya.
4). Kualitas peta geologi dapat dibedakan atas peta geologi standar dan peta geologi
tinjau/ permulaan .
5). Peta geologi standar adalah peta geologi yang dalam penyajiannya memenuhi seperti persyaratan teknis yang tercantum dalam uraian 2 dengan proses pembuatan mengikuti seperti dalam unsur tambahan utama uraian 3.
6). Peta geologi tinjau/permulaan adalah peta geologi yang dalam penyajian dan pembuatannya belum seluruhnya mengikuti kaidah-kaidah peta geologi standar.
7). Peta geologi dibedakan atas peta geologi sistematik dan peta geologi tematik.
8). Peta geologi sistematik adalah peta geologi yang menyajikan data dasar geologi dengan nama dan nomor lembarnya mengacu pada SK Ketua Bakosurtanal No. 019.2.2/1/1975 atau SK Penggantinya.
9). Peta geologi tematik adalah peta geologi yang menyajikan data geologi untuk tujuan tertentu, misalnya peta geologi teknik, peta geologi kuarter.
10). Seluruh wilayah daratan Indonesia tercakup dalam peta geologi sistematik dari berbagai skala sebagai berikut :
a. 1007 lembar peta geologi skala 1:100.000.
b. 198 lembar peta geologi skala 1:250.000.
c. 76 lembar peta geologi skala 1:500.000.
d. 16 lembar peta geologi skala 1:1.000.000.
e. 2 lembar peta geologi skala 1:2.000.000.
f. 1 lembar peta geologi skala 1:5.000.000.
11). Peta geologi diterbitkan oleh instansi pemerintah atau badan usaha yang ditunjuk pemerintah. Instansi yang berwenang menerbitkan peta geologi sistematik adalah Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (disingkat P3G), Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Departemen Pertambangan dan Energi Republik Indonesia.

2. PERSYARATAN TEKNIS

2.1 Simbol
Merupakan tanda yang dipakai untuk menggambarkan sesuatu pada peta geologi, berupa
singkatan hurup, warna, simbol dan corak, atau gabungannya.
2.1.1 Singkatan Hurup
Satuan kronostratigrafi pada peta geologi ditunjukkan dengan singkatan hurup (tilik Gambar 1). Sebagai dokuman/acuan satuan kronostratigrafi adalah tabel (chart) yang dibuat oleh Elsevier (1989) atau revisinya.
1). Hurup pertama (hurup besar) menyatakan jaman, misalnya P untuk Perem, TR untuk Trias, T untuk Tersier.
2). Hurup kedua (hurup kecil) menyatakan seri, misalnya Tm berarti kala
Miosen dalam jaman Tersier.
3). Hurup ketiga (hurup kecil) menyatakan nama formasi atau satuan litologi, misalnya Tmc berarti Formasi Cipluk berumur Miosen.
4). Hurup Keempat (hurup kecil) menyatakan jenis litologi atau satuan peta
yang lebih rendah (anggota), misalnya Tmcl berarti anggota batugamping
Formasi Cipluk yang berumur Miosen.
5). Hurup kelima digunakan hanya untuk batuan yang mempunyai kisaran
umur panjang, misalnya Tpokc berarti Anggota Cawang Formasi Kikim
berumur Paleosen-Oligosen.
6). Hurup pT (p kecil sebelum T besar ) digunakan untuk singkatan umur
batuan sebelum Tersier yang tidak diketahui umur pastinya.
7). Untuk batuan yang mempunyai kisaran umur panjang, urutan singkatan
umur berdasarkan dominasi umur batuan, misalnya QT untuk batuan
berumur Tersier hingga Kuarter yang didominasi batuan berumur Quarter;
JK untuk batuan berumur Jura hingga Kapur yang didominasi batuan
berumur Jura.
8). Batuan beku dan malihan yang tak terperinci susunan dan umurnya cukup dinyatakan dengan satu atau dua buah hurup, misalnya a) untuk andesit, b) untuk basal, gd) untuk granodiorit, um) untuk ultramafik atau ofiolit dan s) untuk sekis.
9). Batuan beku dan malihan yang diketahui umurnya menggunakan lambang hurup jaman, misalnya Kg berarti granit berumur Kapur.
10). Pada peta geologi skala kecil, himpunan batuan cukup dinyatakan dengan hurup di belakang lambang era, jaman atau sub-jaman; misalnya Pzm berarti batuan malihan berumur Paleozoikum, Ks berarti sedimen berumur Kapur, Tmsv berarti klastika gunungapi berumur Miosen, Tpv berarti batuan gunungapi berumur Paleogen, Tni berarti batuan terobosan
berumur Neogen. Satuan bancuh dinyatakan dengan notasi m.

2.1.2 Tata Warna
Warna dipakai untuk membedakan satuan peta geologi, dipilih berasaskan jenis
batuan, umur satuan dan satuan geokronologi.
1). Warna dasar yang digunakan adalah kuning, magenta (merah) dan sian
(biru) serta gabungannya. Setiap warna dinyatakan dengan sandi 0, 1, 3,
5, 7 dan x, yaitu sandi derajat kekuatan warna atau prosentase
penyaringan pada proses kartografi (tilik Gambar 2).
2). Warna yang dipilih untuk membedakan satuan batuan sedimen dan
endapan permukaan sepenuhnya menganut sistem warna berdasarkan jenis
dan umur. Untuk membedakan beberapa satuan seumur dapat digunakan
corak (Gambar 3).
3). Batuan malihan dibedakan berdasarkan (1) derajat dan fasies serta (2)
umur nisbi batuan pra-malihan dan litologi. Tata warna batuan malihan sama dengan batuan sedimen atau mengunakan bakuan warna khusus. Corak untuk membedakan litologi tertera pada Gambar 3.
4). Warna batuan beku menyatakan susunan kimianya : asam, menengah, basa, dan ultrabasa. Untuk membedakannya dipilih warna yang berdekatan, dan singkapan hurup seperti tercantum dalam uraian 2.1.1 atau menurut kunci warna yang sudah dibakukan (tilik Gambar 2). Bila diperlukan, dapat
digunakan corak dengan bakuan khusus.
5). Batuan gunungapi yang berlapis dan dan diketahui umurnya, mengikuti tata warna untuk batuan sedimen. Perbedaan litologi untuk lahar, breksi
gunungapi dan tuf dinyatakan dengan corak (tilik Gambar 3). Beberapa
satuan batuan gunungapi pada suatu lembar peta geologi dapat dibedakan
berdasarkan susunan kimianya, dengan bakuan warna khusus.
6). Satuan tektonit dinyatakan dengan corak khusus.
7). Atas dasar pertimbangan keilmuan atau prospek ekonomi, beberapa hal yang menonjol seperti batuan terubah, derajat pemalihan atau persifatan khusus lainnya, pada peta geologi dapat disajikan secara khusus, di luar yang diuraikan pada 2.1.2

2.1.3 Simbol dan Corak Geologi
Simbol dan notasi (corak) yang tertera pada peta geologi harus tertera pada
legenda dan sebaliknya. Bentuk dan ukurannya harus sama (tilik Gambar 4).

2.2 Istilah
Peristilahan geologi yang digunakan mengacu pada Glossary of Geology (American Geological Institute, 1972); Peristilahan geologi dan ilmu berhubungan (M.M. Purbo Hadiwidjojo, 1975) dan Kamus Besar Bahasa Indonesia.

2.3 Keterangan peta
Keterangan peta ditulis dalam bahasa Indonesia dan terjemahannya dalam bahasa Inggris yang dicetak dengan hurup miring.

2.4 Penyajiaan Peta
1). Bagan bakuan tata letak peta geologi mengikuti seperti pada Gambar 6.
Penyimpangan tata letak dapat dilakukan selama proses kartografi, yaitu
berdasarkan atas pertimbangan teknik kekartografiannya.
2). Korelasi satuan peta diwujudkan dalam gambar, dimana formasi atau satuan batuan yang terdapat pada lembar peta dikelompokkan ke dalam endapan permukaan, batuan sedimen, batuan gunungapi, batuan malihan, batuan beku atau terobosan dan tektonit. Setiap satuan dinyatakan dengan kotak berlambang hurup dan disusun sesuai dengan kedudukan  stratigrafinya (tilik Gambar 7).
3). Uraian singkat setiap satuan
a. Kotak satuan atau formasi berisi simbol hurup dan warna
b. dibelakang kotak dituliskan nama satuan atau formasi dengan hurup besar
c. dibelakang nama diikuti titik dua (:) dan diuraikan macam batuannya yang dimulai dari yang paling banyak menguasai. Keterangan berikutnya
menerangkan :
– informasi tebal lapisan dan atau runtunan satuan/formasi
– fosil petunjuk, umur dan lingkungan pengendapan
– hubungan antar satuan
– sumberdaya mineral dan energi
– unsur penting yang akan menunjang kelengkapan data

2.5 Penerbitan
2.5.1 Bahan Baku
Peta geologi yang disajikan dalam bentuk gambar, setelah melalui proses
kartografi, dicetak diatas kertas HVS dengan berat 115 g atau kertas
konstruk yang tahan cuaca.
2.5.2 Ukuran
1). Peta geologi berskala besar dicetak di atas kertas berukuran 100 cm x
65 cm.
2). Peta geologi berskala kecil menggunakan kertas berukuran 115 cm x 85
cm.

2.6 Spesifikasi
1). Peta geologi skala besar menggunakan peta dasar topografi dengan proyeksi UTM (Universal Transverse Mercator).
2). Peta geologi skala kecil menggunakan peta dasar topografi dan batimetri dengan proyeksi kerucut sama bentuk Lambert.
3). Pencantuman batimetri atau kedalaman laut pada peta geologi berskala besar bukan merupakan keharusan.
4). Peta geologi skala besar dilengkapi dengan penampang geologi.
5). Peta geologi digolongkan menjadi peta geologi standar dan peta geologi
tinjau/permulaan.
a). Peta geologi standar mempunyai data dan informasi yang lengkap dan akurat setara dengan besar skala.
b). Peta geologi tinjau/permulaan masih memerlukan pemutakhiran data. Peta ini dapat hanya dibuat dari hasil penafsiran citra inderaan jauh.
6). Peta geologi seyogyanya menyajikan data dasar dan informasi geologi selengkap mungkin untuk pemakainya, dan berguna untuk tujuan keilmuan dan terapan.
a). Keilmuan, karena data dan informasinya dapat dipakai sebagai titik tolak
pembuatan hipotesis dan sintesis.
b). Terapan, karena dapat digunakan sebagai landasan petunjuk awal dalam
prospeksi dan eksplorasi mineral & sumberdaya energi dan pengembangan
wilayah.
– Peta geologi mencantumkan adanya petunjuk keterdapatan sumberdaya
mineral dan energi.
Peta geologi menggambarkan adanya sebaran gunungapi dan jalur lemah
di permukaan bumi, yang dapat memberikan informasi dasar bagi
kerekayasaan sipil, pertanian, perkebunan, kehutanan, dan
kepariwisataan.

2.7 Ukuran Lembar peta Geologi Sistematik
Ukuran dan koordinat lembar peta geologi sistematik mengacu pada SK Ketua Bakosurtanal No. 019.2.2/1/1975 atau SK penggantinya.
1). Peta geologi sistematik skala 1:25.000 menggunakan peta dasar topagrafi berukuran 7’30” x 7’30” dengan rangka jala (grid) 15″ x 15″.
2). Peta geologi sistematik skala 1:50.000 menggunakan peta dasar topografi berukuran 15′ x 15′, dengan rangka jala (grid) 30″ x 30″.
3). Peta geologi sistematik skala 1:100.000 menggunakan peta dasar topografi berukuran 30′ x 30′, dengan rangka jala (grid) 1’x 1′.
4). Peta geologi sistematik skala 1:250.000 menggunakan peta dasar topografi berukuran 1030′ x 10, dengan rangka jala (grid) 1′ x 1′.
5). Peta geologi sistematik skala 1:500.000 menggunakan peta dasar topografi berukuran 2030′ x 2030′.
6). Peta geologi regional sistematik skala 1:1.000.000 menggunakan peta dasar topografi berukuran 80 x 60.
7). Peta geologi regional sistematik skala 1:2.000.000 menggunakan peta dasar topografi berukuran 250 x 180.
8). Peta geologi regional sistematik skala 1:5.000.000 menggunakan peta dasar topografi berukuran 480 x 200.
9). Peta geologi sistematik skala 1:250.000 mencakup 6 lembar peta geologi skala 1:100.000.
10). Peta geologi sistematik skala 1:100.000 mencakup 4 lembar peta geologi berskala 1:50.000.
11). Peta geologi regional sistematik lainnya berskala lebih kecil mencakup seluruh luas wilayah Indonesia. Perluasan ukuran format peta dapat dilakukan, tergantung kebutuhan dan tujuan.

3. UNSUR TAMBAHAN UTAMA

3.1 Penyusunan Peta
Peta geologi disusun berdasarkan data hasil pengamatan dan penelitian di lapangan dan analisis di laboratorium, atau kompilasi, yang disajikan dalam bentuk gambar melalui proses kartografi.

3.1.1 Pengumpulan dan penyiapan Data
1). Pemetaan geologi dilaksanakan melalui beberapa tahapan kerja (tilik
Gambar 5), masing-masing tahapan memerlukan orang/hari yang berbeda
untuk setiap sekala (tilik tabel 1).
2). Data lapangan dan studio digunakan untuk menyusun peta geologi skala
besar. Selanjutnya, ditambah informasi baru digunakan untuk dasar
penyusunan peta geologi regional skala kecil.

3.1.2 Penyiapan Peta
1). Peta skala besar
a. Peta dasar topografi disiapkan pada bahan yang stabil (peta garis
hijau).
b. Peta dasar lapangan sejauh mungkin berskala sesuai dengan skala peta
yang diterbitkan, atau sedikit lebih besar, berupa ozalid yang dipotong-potong dan direkat pada kain blacu sesuai ukuran tas peta.
c. Peta lapangan juga digunakan untuk mengoreksi unsur topografi/
geografi (desa atau gunung yang tidak tepat lagi nama dan letaknya),
sebagai bahan perbaikan peta dasar.
d. Menyimpulkan semua data dan informasi dari 3.1.1 menjadi peta
geologi sementara diatas garis hijau dengan semua simbol yang
diperlukan.
e. Menerapkan aturan pemakai hurup untuk satuan peta sebagaimana
diuraikan dalam 2.1.1.
f. Menyiapkan penampang geologi, kolom korelasi satuan stratigrafi dan
keterangan pinggir.
– Penampang geologi dibuat pada milar milimeter dengan skala yang
jelas.
– Kolom satuan stratigrafi dibuat pada kertas/milar milimeter dengan
format disarankan seperti pada gambar 7.
– Keterangan pinggir legenda (Gambar 6, no 4,5,6) disusun sesuai
format di atas kalkir milimeter, selebihnya (Gambar 6 no 2,3,7,
8,10,1,12,13,14) diusahakan masuk dalam peta garis hijau.
g. Cara penggambaran
– Unsur geologi pada peta garis hijau menggunakan pena rapidograf
atau pensil HB oleh pemeta.
– Tebal garis mengikuti pedoman pada Gambar 4
h. Menyelesaikan naskah lengkap peta geologi tahap pertama, yang
terdiri dari data geologi yang terhimpun, pola aliran dan geografi yang
telah diperbaiki dari kajian citra inderaan jauh dan data lapangan.
i. Menyiapkan naskah lengkap untuk penelaahan berupa peta geologi
berwarna lengkap dengan penampang dan keterangan pinggir.
2). Peta skala kecil
a. Menghimpun informasi dari berbagai sumber dan peta geologi hasil
pemetaan sebelumnya.
b. Merajah hasil pengamatan lapangan, antara lain lokasi pengamatan,
sentuhan satuan peta, jurus dan kemiringan, sesar, antiklin, sinklin dan
kelurusan di atas sehelai lembar tindih.
c. Merajah lokasi pada lembar tindih tersendiri, meliputi:
– penelitian petrografi
– fosil dan umurnya
– tanggalan radiometri
– analisis kimia
– prospek sumberdaya mineral dan energi
– semua unsur geografi yang penting
d. Menyiapkan kolom korelasi satuan stratigrafi dan keterangan pinggir.
– Kolom satuan stratigrafi dibuat pada kertas/milar milimeter dengan
format disarankan seperti pada Gambar 7.
– Keterangan pinggir legenda (Gambar 6 no 4, 5, 6) disusun sesuai
format di atas kalkir milimeter, selebihnya (Gambar 6 no. 2, 3, 7,
8, 10, 11, 12, 13, 14 ) diusahakan masuk dalam peta garis hijau.
e. Menyiapkan naskah lengkap untuk penelahan berupa peta geologi
berwarna lengkap.

3.1.3 Penelaahan Peta
1). Penelaahan naskah dan peta geologi dilakukan oleh ahli yang mempunyai
wawasan yang luas.
2). Penelaahan dapat dilakukan lebih dari 1 kali, tergantung kerumitan tataan geologi.
a. Kewajiban yang harus dipenuhi oleh penelaah adalah:
– Membina kerjasama serta saling pengertian dengan penyusun;
– Menyarankan perbaikan unsur geologi pada peta seperti struktur
dan stratigrafi;
b. Kewajiban penyusun peta geologi yang peta dan naskahnya sedang
ditelaah adalah:
– Melakukan dialog langsung dengan penelaah (dan peredaksi );
– Mempelajari segala saran telaahan dan segera melakukan perbaikan
seperlunya pada tahap penelaahan (dan pada tahap
pelaksanaan kartografi selanjutnya );
– Melakukan perbaikan asasi pada tahap penelaahan saja (dan tidak
pada tahap kartografi);
– Membaca naskah setelah diset dan membubuhkan koreksi
seperlunya (tahap kartografi).

3.2 Mutu
1). Mutu atau kualitas peta geologi ditentukan oleh bobot (kualitas, kuantitas dan ketepatan) data dasar yang terkandung di dalamnya, yang disajikan dengan baik dan benar. Mutu peta geologi juga ditunjang oleh proses kartografi dan pencetakannya.
2). Peta geologi yang lengkap sebagai informasi terdiri dari:
a. unsur petanya sendiri, yang merupakan pencerminan suatu lingkungan geologi dalam gambar dua matra.
b. Unsur penampang, yang bertujuan memberikan gambaran matra ke tiga .
c. Unsur uraian dalam bentuk keterangan pinggir.

3.3 Pengemasan
Peta geologi dilipat menurut kaidah yang ada, yang hakekatnya memudahkan pemakai melihat nama dan nomor lembar peta, dan dimasukkan di dalam kantong yang disediakan.

3.4 Pendokumentasikan
Menyusun laporan terbuka yang dilengkapi hasil analisis laboratorium (paleontologi, petrologi, kimia batuan, pentarikhan umur batuan dan sebagainya), lokasi contoh batuan dan lokasi pengamatan. Laporan terbuka tersebut yang menyertai peta geologi disimpan di perpustakaan instansi yang bersangkutan dan terbuka untuk umum.

Untuk matakuliah Erosi Geologi & Pemetaan Geomorfologi

Iklan