MARI MENGENAL AL-QUR’AN DAN HADIST

Al-Qur’an

Ketika Rasulullah saw mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman,
Rasulullah saw bertanya kepada Mu’adz, “Dengan pedoman apa anda memutuskan suatu urusan?. Jawab Mu’adz: Dengan Kitabullah.
Tanya Rasul: Kalau tidak ada dalam al-Quran?
Jawab Mu’adz: Dengan sunnah Rasulullah.
Tanya Rasul: Kalau dalam sunnah juga tidak ada?
Jawab Mu’adz: Saya berijtihad dengan pikiran saya.
Sabda Rasul: Maha Suci Allah yang telah memberikan bimbingan kepada utusan Rasul-Nya, dengan satu sikap yang disetujui Rasul-Nya.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi).

Dari peristiwa ini dapat diambil kesimpulan tentang nilai dan sumber nilai Islam, yaitu al-Qu’an, sunnah, dan ijtihad.
Ayat-ayat yang mendukung bahwa al-Qur’an, as-sunnah, dan ijtihad merupakan nilai dan sumber nilai seorang muslim, dapat kita temukan dalam banyak surat.
Kesimpulan lain yang dapat diambil dalam peristiwa tersebut di atas ialah bahwa penggunaan tiga sumber nilai itu hendaknya diprioritaskan yang pertama, kedua, dan ketiga.
Konsekuensinya adalah apabila bertentangan satu dengan yang lain, maka hendaknya dipilih al-Qur’an terlebih dahulu kemudian yang kedua, al-Hadits.

Fungsi dan peranan al-Qur’an.

Al-Qur’an adalah wahyu Allah (42:7) yang berfungsi sebagai mu’jizat bagi Rasulullah Muhammad saw (17:88; 10:38), sebagai pedoman hidup bagi setiap Muslim (4:105; 5:49,50; 45:20), dan sebagai korektor dan penyempurna terhadap kitab-kitab Allah sebelumnya (5:48,15; 16:64), dan bernilai abadi. Sebagai mu’jizat, al-Qur’an telah menjadi salah satu sebab penting bagi masuknya orang-orang Arab di zaman Rasulullah ke dalam agama Islam, dan menjadi sebab penting pula bagi masuknya orang-orang sekarang, dan (insya Allah) pada masa-masa yang akan datang.
Ayat-ayat yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dapat meyakinkan kita bahwa Al-Qur’an adalah firman-firman Allah, tidak mungkin ciptaan manusia apalagi ciptaan Nabi Muhammad saw yang ummi (7:158) yang hidup pada awal abad ke-enam Masehi (571-632M). Di antara ayat-ayat tersebut umpamanya: 39:6; 6:125; 23:12,13; 51:49; 41:11-41; 21:30-33; 51:7, dan lain-lain. Demikian juga ayat-ayat yang berhubungan dengan sejarah seperti tentang kekuasaan di Mesir, Negeri Saba’, Tsamud, ‘Ad, Yusuf, Sulaiman, Dawud, Adam, Musa, dan lain-lain dapat memberikan keyakinan kepada kita bahwa al-Qur’an adalah wahyu Allah bukan ciptaan manusia.
Ayat-ayat yang berhubungan dengan ramalan-ramalan khusus yang kemudian dibuktikan oleh sejarah seperti tentang bangsa Romawi, berpecah-belahnya Kristen dan lain-lain juga menjadi bukti lagi kepada kita bahwa al-Qur’an adalah wahyu Allah swt (30:2-4; 5:14).
Bahasa al-Qur’an adalah mu’jizat terbesar sepanjang masa, keindahan bahasa dan kerapian susunan katanya tidak dapat ditemukan pada buku-buku bahasa Arab lainnya. Gaya bahasa yang luhur tapi mudah dimengerti adalah merupakan ciri dari gaya bahasa al-Qur’an. Karena gaya bahasa yang demikianlah ‘Umar bin Khathab masuk Islam setelah mendengar awal surat Thaha yang dibaca oleh adiknya Fathimah. Abul Wahd, diplomat Quraisy waktu itu, terpaksa cepat-cepat pulang begitu mendengar beberapa ayat dari surat Fushshilat yang dikemukakan Rasulullah sebagai jawaban atas usaha-usaha bujukan dan diplomasinya. Bahkan Abu Jahal musuh besar Rasulullah, sampai tidak jadi membunuh Nabi karena mendengar surat adh-Dhuha yang dibaca nabi. Tepat yang dinyatakan al-Qur’an bahwa sebab seorang tidak menerima kebenaran al-Qur’an sebagai wahyu Ilahi adalah salah satu diantara dua sebab, yaitu:
1. Tidak berpikir dengan jujur dan sungguh-sungguh.
2. Tidak sempat mendengar dan mengetahui al-Qur’an secara baik (67:10, 4:82).
Oleh al-Qur’an disebut al-maghdhub (dimurkai Allah) karena tahu kebenaran tetapi tidak mau menerima kebenaran itu dan disebut adh-Dhalim (orang sesat) karena tidak menemukan kebenaran itu. Sebagai jaminan bahwa al-Qur’an itu adalah wahyu Allah, maka al-Qur’an sendiri menantang setiap manusia untuk membuat satu surat saja yang senilai dengan al-Qur’an (2:23,24; 17:88).
Sebagai pedoman hidup, al-Qur’an banyak mengemukakan pokok-pokok serta prinsip-prinsip umum pengaturan hidup dalam hubungan antara manusia dengan Allah, manusia dengan manusia dan makhluk lainnya. Di dalamnya terdapat peraturan-peraturan seperti:
 Beribadah langsung kepada Allah (2:43,183,184,196,197; 11:114),
 Berkeluarga (4:3,4,15,19,20,25; 2:221; 24:32; 60:10,11),
 Bermasyarakat (4:58; 49:10,13; 23:52; 8:46; 2:143),
 Berdagang (2:275,276,280; 4:29),
 Utang-piutang (2:282),
 Kewarisan (2:180; 4:7-12,176; 5:106),
 Pendidikan dan pengajaran (3:159; 4:9,63; 31:13-19; 26:39,40),
 Pidana (2:178; 4:92,93; 5:38; 10:27; 17:33), dan
 Aspek-aspek kehidupan lainnya yang oleh Allah dijamin dapat berlaku dan sesuai pada setiap tempat dan setiap waktu (7:158; 34:28; 21:107).
 Setiap Muslim diperintahkan untuk melakukan tata nilai tersebut dalam kehidupannya (2:208; 6:153; 9:51).
 Dan sikap memilih sebagian dan menolak sebagian tata nilai itu dipandang al-Qur’an sebagai bentuk pelanggaran dan dosa (33:36).
 Melaksanakannya dinilai ibadah (4:69; 24:52; 33:71),
 Memperjuangkannya dinilai sebagai perjuangan suci (61:10-13; 9:41),
 Mati karenanya dinilai sebagai mati syahid (3:157, 169),
 Hijrah karena memperjuangkannya dinilai sebagai pengabdian yang tinggi (4:100; 3:195),
 dan tidak mau melaksanakannya dinilai sebagai zhalim, fasiq, dan kafir (5:44,45,47).

Sebagai korektor al-Qur’an banyak mengungkapkan persoalan-persoalan yang dibahas oleh kitab-kitab Taurat, Injil, dan lain-lain yang dinilai al-Qur’an tidak sesuai dengan ajaran Allah yang sebenarnya (karena pemalsuan-pemalsuan). Baik menyangkut segi sejarah orang-orang tertentu, hukum-hukum, prinsip-prinsip ketuhanan, dan lain sebagainya.
Sebagai contoh koreksi-koreksi yang dikemukakan al-Qur’an antara lain sebagai berikut:
a) tentang ajaran Trinitas (5:73).
b) tentang Isa (3:49,59; 5:72,75).
c) tentang penyaliban Nabi Isa (4:157, 158).
d) tentang Nabi Luth (29:28-30; 7:80-84), perhatikan (Genesis, 19:33-36).
e) tentang Harun (20:90-94), perhatikan (Keluaran, 37:2-4).
f) tentang Sulaiman (2:102; 27:15-44), perhatikan (Raja-raja, 21:4-5), dan lain-lain.

Sejarah kodifikasi dan perkembangannya.

Allah akan menjamin kesucian dan kemurnian al-Qur’an, akan selamat dari usaha-usaha pemalsuan, penambahan atau penguranan-pengurangan (15:9; 75:17-19). Dalam catatan sejarah dapat dibuktikan bahwa proses kodifikasi dan penulisan al-Qur’an dapat menjamin kesuciannya secara meyakinkan. Al-Qur’an ditulis sejak nabi masih hidup. Begitu wahyu turun kepada nabi, nabi langsung memerinahkan para sahabat penulis wahyu untuk menuliskannya secara hati-hati. Begitu mereka tulis, kemudian mereka hafalkan sekaligus mereka amalkan.

Pada awal pemerintahan khalifah yang pertama dari Khulafaur Rasyidin, yaitu Abu Bakar ash-shiddiq, al-Qur’an telah dikumpulkan dalam mushhaf tersendiri. Dan pada zaman khalifah yang ketiga, ‘Utsman bin Affan, al-Qur’an telah sempat diperbanyak. Alhamdulillah al-Qur’an yang asli itu sampai saat ini masih ada. Dalam perkembangan selanjutnya, tumbuh pula usaha-usaha untuk menyempurnakan cara-cara penulisan dan penyeragaman bacaan, dalam rangka menghindari adanya kesalahan-kesalahan bacaan maupun tulisan. Karena penulisan al-Qur’an pada masa pertama tidak memakai tanda baca (tanda titik dan harakat) maka al-Khalil mengambil inisiatif untuk membuat tanda-tanda yang baru, yaitu huruf waw yang kecil di atas untuk tanda dhammah, huruf alif kecil di atas untuk tanda fat-hah, huruf alif yang kecil di bawah untuk tanda kasrah, kepala huruf syin untuk tanda shiddah, kepala ha untuk syukun, dan kepala ‘ain untuk hamzah. Kemudian tanda-tanda ini dipermudah, dipotong, dan ditambah sehingga menjadi bentuk yang sekarang ada.
Dalam perkembangan selanjutnya tumbuhlah beberapa macam tafsir al-Qur’an yang ditulis oleh ulama Islam, yang sampai saat ini tidak kurang dari 50 macam tafsir al-Qur’an. Juga telah tumbuh pula berbagai macam disiplin ilmu untuk membaca dan membahas al-Qur’an.

Ilmu-ilmu yang membahas hal-hal yang berhubungan dengan al-Qur’an.

Ilmu-ilmu yang membahas hal-hal yang berhubungan dengan al-Qur’an antara lain:
a) Ilmu Mawathin Nuzul, yaitu ilmu yang membahas tempat-tempat turunnya ayat al-Qur’an.
b) Ilmu Asbabun Nuzul, yaitu ilmu yang membahas sebab-sebab turunnya ayat al-Qur’an.
c) Ilmu Tajwid, yaitu ilmu yang membahas teknik membaca al-Qur’an.
d) Gharibil Qur’an, yaitu ilmu yang membahas kalimat-kalimat yang asing artinya dalam al-Qur’an.
e) Ilmu Wajuh wa Nadhar, yaitu ilmu yang membahas kalimat yang mempunyai banyak arti dan makna apa yang dikehendaki oleh sesuatu ayat dalam al-Qur’an.
f) Ilmu Amtsalil Qur’an, yaitu ilmu yang membahas perumpamaan-perumpamaan dalam al-Qur’an.
g) Ilmu Aqsamil Qur’an, yaitu ilmu yang mempelajari maksud-maksud sumpah Tuhan dalam al-Qur’an.
h) dan masih banyak lagi.

Pembagian isi al-Qur’an.

Al-Qur’an terdiri dari 114 surat; 91 surat turun di Makkah dan 23 surat turun di Madinah. Ada pula yang berpendapat, 86 surat turun di Makkah dan 28 surat di Madinah. Surat yang turun di Makkah dinamakan Makkiyah, pada umumnya suratnya pendek-pendek, menyangkut prinsip-prinsip keimanan dan akhlaq, panggilannya ditujukan kepada manusia. Sedangkan surat yang turun di Madinah disebut Madaniyyah, pada umumnya suratnya panjang-panjang menyangkut peraturan-peraturan yang mengatur hubungan seseorang dengan Tuhan atau seseorang dengan lainnya (syari’ah). Diperkirakan 19/30 turun di Madinah. Atas inisiatif para ulama maka kemudian al-Qur’an dibagi-bagi menjadi 30 juz. Dalam 30 juz dibagi kepada setengah juz, seperempat juz, maqra, dan lain-lain.

Nama-nama al-Qur’an.

 al-Kitab: tulisan yang lengkap (2:2)
 al-Furqan: memisahkan antara yang haq dari yang bathil (25:1)
 al-Mau’idhah: nasihat (10:57)
 asy-Syifa’: obat (10:57)
 al-Huda: yang memimpin (72:13)
 al-Hikmah: kebijaksanaan (17:39)
 al-Hukmu: keputusan (13:37)
 al-Khair: kebaikan (3:103)
 adz-dzikru: peringatan (15:9)
 ar-Ruh: roh (42:52)
 al-Muthahharah: yang disucikan (80:14)

01. Al’Alaq
02. Al-Qalam
03. Al-Muzammil
04. Al-Muddatstsir
05. Al-Fatihah
06. Al-Masab (Al-Lahab)
07. At-Takwir
08. Al-A’la
09. Al-Lail
10. Al-Fajr
11. Adh-Dhuha
12. Alam Nasyrah (Al-Insyirah)
13. Al-‘Ashr
14. Al-Aadiyat
15. Al-Kautsar
16. At-Takatsur
17. Al-Ma’un
18. Al-Kafirun
19. Al-Fiil
20. Al-Falaq
21. An-Nas
22. Al-Ikhlas
23. An-Najm
24. ‘Abasa

25. Al-Qadar
26. Asy-Syamsu
27. Al-Buruj
28. At-Tin
29. Al-Quraisy
30. Al-Qariah
31. Al-Qiyamah
32. Al-Humazah
33. Al-Mursalah
34. Qaf
35. Al-Balad
36. Ath-Thariq
37. Al-Qamar
38. Shad
39. Al-A’raf
40. Al-Jin
41. Yaasin
42. Al-Furqan
43. Fathir
44. Maryam
45. Thaha
46. Al-Waqi’ah
47. Asy-Syura
48. An-Naml
49. Al-Qashash
50. Al-Isra
51. Yunus
52. Hud
53. Yusuf
54. Al-Hijr
55. Al-An’am
56. Ash-Shaffat
57. Lukman
58. Saba’
59. Az-Zumar
60. Ghafir
61. Fushshilat
62. Asy-Syura
63. Az-Zukhruf
64. Ad-Dukhan
65. Al-Jatsiyah
66. Al-Ahqqaf
67. Adz-Dzariyah
68. Al-Ghasyiyah
69. Al-Kahf
70. An-Nahl
71. Nuh
72. Ibrahim 73. Al-Anbiya
74. Al-Mu’minun
75. As-Sajdah
76. Ath-Thur
77. Al-Mulk
78. Al-Haqqah
79. Al-Ma’arij
80. An-Naba’
81. An-Nazi’at
82. Al-Infithar
83. Al-Insyiqaq
84. Ar-Rum
85. Al-Ankabut
86. Al-Muthaffifin
87. Al-Zalzalah
88. Ar-Rad
89. Ar-Rahman
90. Al-Insan
91. Al-Bayyinah
Nama-nama surat berdasarkan urutan turunnya (menurut sebagian besar Ulama).
a) Makkiyah
b) Madaniyyah.

01. Al-Baqarah
02. Al-Anfal
03. Ali ‘Imran
04. Al-Ahzab
05. Al-Mumtahanah
06. An-Nisa’
07. Al-Hadid
08. Al-Qital
09. Ath-Thalaq
10. Al-Hasyir
11. An-Nur
12. Al-Hajj
13. Al-Munafiqun
14. Al-Mujadalah
15. Al-Hujurat
16. At-Tahrim
17. At-Taghabun
18. Ash-Shaf
19. Al-Jum’at
20. Al-Fath
21. Al-Ma’idah
22. At-Taubah
23. An-Nash

Susunan al-Qur’an dalam sistematika yang ada sekarang.
01. Al-Fatihah
02. Al-Baqarah
03. Ali ‘Imran
04. An-Nisa’
05. Al-Ma’idah
06. Al-An’am
07. Al-A’raf
08. Al-Anfal
09. At-Taubah
10. Yunus
11. Hud
12. Yusuf
13. Ar-Ra’d
14. Ibrahim
15. Al-Hijr
16. An-Nahl
17. Al-Isra’
18. Al-Kahf
19. Maryam
20. Thaha
21. Al-Anbiya
22. Al-Hajj
23. Al-Mu’minun
24. An-Nur
25. Al-Furqan
26. Asy-Syu’ara
27. An-Naml
28. Al-Qashash
29. Al-Ankabut
30. Ar-Rum
31. Lukman 32. As-Sajdah
33. Al-Ahzab
34. Saba’
35. Fathir
36. Yaasin
37. Ash-Shaffat
38. Shad
39. Az-Zumar
40. Al-Mu’min
41. Fushshilat
42. Asy-Syura
43. Az-Zukhruf
44. Ad-Dukhan
45. Al-Jatsiyah
46. Al-Ahqqaf
47. Muhammad
48. Al-Fath
49. Al-Hujurat
50. Qaf
51. Adz-Dzariyah
52. Ath-Thur
53. An-Najm
54. Al-Qamar
55. Ar-Rahman
56. Al-Waqi’ah
57. Al-Hadid
58. Al-Mujadalah
59. Al-Hasyir
60. Al-Mumtahanah
61. Ash-Shaf
62. Al-Jum’at
63. Al-Munafiqun
64. At-Taghabun
65. Ath-Thalaq
66. At-Tahrim
67. Al-Mulk
68. Al-Qalam
69. Al-Haqqah
70. Al-Ma’arij
71. Nuh
72. Al-Jin
73. Al-Muzammil
74. Al-Muddatstsir
75. Al-Qiyamah
76. Al-Insan
77. Al-Mursalah
78. An-Naba’
79. An-Nazi’at
80. ‘Abasa
81. At-Takwir
82. Al-Infithar
83. Al-Muthaffifin
84. Al-Insyiqaq
85. Al-Buruj
86. Ath-Thariq
87. Al-A’la
88. Al-Ghasyiyah
89. Al-Fajr
90. Al-Balad
91. Asy-Syamsu
92. Al-Lail
93. Adh-Dhuha
94. Alam Nasyrah (Al-Insyirah)
95. At-Tin
96. Al-‘Alaq
97. Al-Qadar
98. Al-Bayyinah
99. Al-Zalzalah
100. Al-Aadiyat
101. Al-Qariah
102. Al-Takatsur
103. Al-‘Ashr
104. Al-Humazah
105. Al-Fiil
106. Al-Quraisy
107. Al-Ma’un
108. Al-Kautsar
109. Al-Kafirun
110. An-Nashr
111. Al-Masab (Al-Lahab)
112. Al-Ikhlas
113. Al-Falaq
114. An-Nas

As-Sunnah / Al-Hadist

Dasar pengertian.
Secara etimologis hadist bisa berarti:
1. Baru, seperti kalimat: “Allah qadim mustahil hadist”.
2. Dekat, seperti: “Haditsul ahdi bil Islam”.
3. Khabar, seperti: “Falya’tu bi haditsin mitslihi”.
Dalam tradisi hukum Islam, hadits berarti : Segala perkataan, perbuatan dan keizinan Nabi Muhammad saw (Af’al, Aqwal, dan Taqrir).
Pengertian hadits sebagaimana tersebut di atas adalah identik dengan sunnah, yang secara etimologis berarti jalan atau tradisi, sebagaimana dalam al-Qur’an: “Sunnata man qad arsalna” (al-Israa:77).
Juga dapat berarti:
1). UU atau peraturan yang tetap belaku;
2). Cara yang diadakan;
3). Jalan yang telah dijalani;
Ada yang berpendapat antara sunnah dan hadits tersebut adalah berbeda. Akan tetapi dalam kebiasaan hukum Islam antara hadits dan sunnah tersebut hanyalah berbeda dalam segi penggunaannya saja, tidak dalam isi dan tujuannya.

As-Sunnah sebagai sumber nilai.

Sunnah adalah sumber hukum Islam (pedoman hidup kaum Muslimin) yang kedua setelah al-Qur’an. Bagi mereka yang telah beriman kepada al-Qur’an sebagai sumber hukum, maka secara otomatis harus percaya bahwa sunnah sebagai sumber Islam juga. Ayat-ayat al-Qur’an cukup banyak untuk dijadikan alasan yang pasti tentang hal ini, seperti:
a) Setiap Mu’min harus percaya kepada Allah dan Rasul-Nya (al-Anfal:20, Muhammad:33, An-Nisa’:59, Ali-‘Imran:32, al-Mujadalah:13, an-Nur:54, al-Ma’ida:92).
b) Kepatuhan kepada Rasul berarti patuh dan cinta kepada Allah (an-Nisa’:80, Ali-Imran:31).
c) Orang-orang yang menyalahi sunnah akan mendapatkan siksa (al-Anfal:13, al-Mujadalah:5, an-Nisa’:115).
d) Berhukum terhadap sunnah adalah tanda orang yang beriman ( an-Nisa’:65).
e) Dan Kemudian perhatikan ayat-ayat: an-Nur:52, al-Hasyr:4, al-Mujadalah:20, an-Nisa’:64 dan 69, al-Ahzab:36 dan 71, al-Hujurat:1, al-Hasyr:7, dan sebagainya.

Apabila sunnah tidak berfungsi sebagai sumber hukum, maka kaum Muslimin akan mendapatkan kesulitan-kesulitan dalam hal: cara shalat, kadar dan ketentuan zakat, cara haji, dan lain sebagainya. Sebab ayat-ayat al-Qur’an dalam hal tersebut hanya berbicara secara global dan umum, dan yang menjelaskan secara terperinci justru sunnah Rasulullah. Selain itu juga akan mendapatkan kesukaran-kesukaran dalam hal menafsirkan ayat-ayat yang musytarak, muhtamal, dan sebagainya yang mau tidak mau memerlukan sunnah untuk menjelaskannnya. Dan apabila penafsiran-penafsiran tersebut hanya didasarkan kepada pertimbangan rasio sudah barang tentu akan melahirkan tafsiran-tafsiran yang sangat subjektif dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Hubungan as-Sunnah dan al-Qur’an.

Dalam hubungan dengan al-Qur’an , maka as-Sunnah berfungsi sebagai penafsir, pensyarah, penjelas atas ayat-ayat tertentu. Apabila disimpulkan tentang fungsi as-Sunnah dalam hubungan dengan al-Qur’an itu adalah sebagai berikut:
1. Bayan Tafsir, yaitu menerangkan ayat-ayat yang sangat umum mujmal dan musytarak. Seperti hadits: “Shallukama ra’aitumuni ushalli” (shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat) adalah merupakan tafsiran dari ayat al-Qur’an yang umum, yaitu: “Aqimush-shalah” (kerjakan shalat). Demikian pula dengan hadits: “khudzu ‘annimanasikakum” (ambilah dariku perbuatan hajiku) adalah tafsiran ayat al-Qur’an “Waatimmulhajja” (dan sempurnakan hajimu).
2. Bayan Taqrir, yaitu as-Sunnah yang berfungsi untuk memperkokoh dan memperkuat pernyataan al-Qur’an, seperti hadits yang berbunyi: “Shaumul liru’yatihi wafthiruliru’yatihi” (berpuasalah karena melihat bulan dan berbukalah karena melihatnya) adalah memperkokoh ayat al-Qur’an dalam surat al-Baqarah:185.
3. Bayan Taudhih, yaitu menerangkan maksud dan tujuan sesuatu ayat al-Qu r’an, seperti pernyataan Nabi: “Allah tidak mewajibkan zakat melainkan supaya menjadi baik harta-hartamu yang sudah dizakati” adalah taudhih (penjelasan) terhadap ayat al-Qur’an dalam surat at-Taubah:34 yang berbunyi sebagai berikut: “Dan orang-orang yang menyimpan mas dan perak yang kemudian tidak membelanjakannya di jalan Allah maka gembirakanlah mereka dengan azab yang sangat pedih”. Pada waktu ayat ini turun banyak para sahabat yang merasa berat untuk melaksanakan perintah ini, maka mereka bertanya kepada Nabi yang kemudian dijawab dengan hadits tersebut.

Perbedaan antara al-Qur’an dan al-Hadits sebagai sumber hukum.
Sekalipun al-Qur’an dan as-Sunnah/al-Hadits sebagai sumber hukum Islam namun di antara keduanya terdapat perbedaan-perbedaan yang cukup prinsipil. Perbedaan-perbedaan tersebut antara lain:
a) al-Qur’an nilai kebenarannya adalah qath’i (absolut), sedangkan al-Hadits adalah zhanni (kecuali hadits mutawatir).
b) Seluruh ayat al-Qur’an mesti dijadikan sebagai pedoman hidup, tetapi tidak semua hadits kita jadikan sebagai pedoman hidup. Sebab di samping ada sunnah yang tasyri’ ada juga sunnah yang ghairu tasyri’. Di samping ada hadits yang shahih (kuat) ada pula hadits yang dha’if (lemah),dan seterusnya.
c) Al-Qur’an sudah pasti otentik lafazh dan maknanya, sedangkan hadits tidak.
d) Apabila al-Qur’an berbicara tentang masalah-masalah aqidah atau hal-hal yang ghaib maka setiap Muslim wajib mengimaninya, tetapi tidak demikian apabila masalah-masalah tersebut diungkapkan oleh hadits (ada yang wajib diimani dan ada yang tidak).

Sejarah singkat perkembangan al-Hadits.
Para ulama membagi perkembangan hadits itu menjadi 7 periode, yaitu:
a) Masa wahyu dan pembentukan hukum (pada zaman Rasul: 13 SH-11 H).
b) Masa pembatasan riwayat (masa khulafaur rasyidin: 12-40 H).
c) Masa pencarian hadits (pada masa generasi tabi’in dan sahabat’s muda: 41 H – akhir abad I H).
d) Masa pembukuan hadits (permulaan abad II H).
e) Masa penyaringan dan seleksi ketat (awal abad III H) sampai selesai.
f) Masa penyusunan kitab-kitab koleksi (awal abad IV H sampai jatuhnya Baghdad pada Th 656 H).
g) Masa pembuatan kitab syarah hadits, kitab-kitab tahrij dan penyusunan kitab-kitab koleksi yang lebih umum (656 H dan seterusnya).
Pada zaman Rasulullah hadits tidak dituliskan sebab:
a) Nabi sendiri pernah melarangnya, kecuali bagi sahabat-sahabat tertentu yang diizinkan beliau sebagai catatan pribadi.
b) Rasulullah berada di tengah-tengah ummat Islam sehingga dirasa tidak sangat perlu untuk dituliskan pada waktu itu.
c) Kemampuan tulis baca di kalangan sahabat sangat terbatas.
d) Ummat Islam sedang dikonsentrasikan kepada al-Qur’an.
e) Kesibukan-kesibukan ummat Islam yang luar biasa dalam menghadapi perjuangan da’wah yang sangat penting.

Menurut catatan sejarah, ada sahabat yang mencatat hadits Nabi, antara lain: ‘Ali dan ‘Abdullah bin ‘Amr. Pada zaman-zaman berikutnya pun ternyata al-Hadits belum sempat dibukukan karena sebab-sebab tertentu. Baru pada zaman ‘Umar bin ‘Abdul -‘Azis, khalifah ke-8 dari Dinasti Bani Umayyah, (99-101 H) timbul inisiatif secara resmi untuk menulis dan membukukan hadits tersebut.
Sebelumnya hadits-hadits tersebut hanya disampaikan melalui hafalan-hafalan para sahabat yang kebetulan hidup lama setelah Nabi wafat dan pada saat generasi tabi’in mencari hadits-hadits itu. Di antara sahabat-sahabat itu ialah:
 ‘Abu Hurairah, meriwayatkan hadits sekitar 5374 buah;
 ‘Abdullah bin ‘Umar bin Khathtab, meriwayatkan sekitar 2630 buah;
 ‘Anas bin Malik, meriwayatkan sebanyak 2286 buah;
 ‘Abdullah bin ‘Abbas, meriwayatkan sebanyak 1160;
 ‘Aisyah Ummul Mu’minin, meriwayatkan sebanyak 2210 buah;
 Jabir bin Abdillah, meriwayatkan sebanyak 1540 buah;
 Abu Sa’id al-Hudri meriwayatkan 1170 buah.
Kenapa kemudian Hadits dikodifikasikan ?

Kodifikasi hadits itu justru dilatarbelakangi oleh adanya usaha-usaha untuk membuat dan menyebarluaskan hadits-hadits palsu di kalangan ummat Islam, baik yang dibuat oleh ummat Islam sendiri karena maksud-maksud tertentu, maupun oleh orang-orang luar yang sengaja untuk menghancurkan Islam dari dalam. Dan sampai saat ini ternyata masih banyak hadits-hadits palsu itu bertebaran dalam beberapa literatur kaum Muslimin.
Di samping itu tidak sedikit pula kesalahan-kesalahan yang berkembang di kalangan masyarakat Islam, berupa anggapan terhadap pepatah-pepatah dalam bahasa Arab yang dinilai mereka sebagai hadits. Walaupun ditinjau dari isi materinya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip pokok ajaran Islam, tetapi kita tetap tidak boleh mengatakan bahwa sesuatu ucapan itu sebagai ucapan Rasulullah kalau memang bukan sabda Rasulullah. Sebab sabda Rasulullah: “Barang siapa berdusta atas namaku maka siap-siap saja tempatnya di neraka.”
Alhamdulillah, berkat jasa-jasa dari ulama-ulama yang saleh, hadits-hadits itu kemudian sempat dibukukan dalam berbagai macam bentuk dalam berbagai macam buku serta diadakan seleksi ketat oleh mereka sampai melahirkan satu disiplin ilmu tersendiri yang disebut ilmu Musthalah Hadits. Walaupun usaha mereka belum dapat membendung seluruh usaha-usaha penyebaran hadits-hadits palsu dan lemah, namun mereka telah melahirkan norma-norma dan pedoman-pedoman khusus untuk mengadakan seleksi sebaik-baiknya yang dituangkan dalam ilmu musthalah hadits tersebut. Sehingga dengan pedoman itu ummat Islam sekarang pun dapat mengadakan seleksi-seleksi seperlunya. Nama-nama Ishak bin Rahawaih, Imam Bukhari, Imam Muslim, ar-Rama al-Hurmudzi, al-Madini, Ibnu Shalah, dan masih banyak lagi ulama-ulama saleh lainnya adalah rentetan nama-nama yang besar jasanya dalam usaha penyelamatan hadits-hadits dari kepalsuan-kepalsuan sehingga lahirlah ilmu tersebut. Untuk memberikan gambaran perkembangan hadits dapat kita perhatikan perkembangan kelahiran kitab-kitab hadits dan ilmu-ilmu hadits.

Perkembangan kitab-kitab Hadits.

a) Cara penyusunan kitab-kitab hadits para ulama menempuh cara-cara antara lain:
1. Penyusunan berdasarkan bab-bab fiqiyah, mengumpulkan hadits-hadits yang berhubungan dengan shalat umpamanya dalam babush-shalah, hadits-hadits yang berhubungan dengan masalah wudhu dalam babul-wudhu, dan sebagainya.
Cara ini terbagi dua macam:
a) Dengan mengkhususkan hadits-hadits yang shahih saja, seperti yang ditempuh oleh Imam Bukhari dan Muslim.
b) Dengan tidak mengkhususkan hadits-hadits yang shahih (asal tidak munkar), seperti yang ditempuh oleh Abu dawud, Tarmidzi, Nasa’i, dan sebagainya.
2. Penyusunan berdasarkan nama-nama sahabat yang meriwayatkannya.
Cara ini terbagi empat macam:
a) Dengan menyusun nama-nama sahabat berdasarkan abjad.
b) Dengan menyusun nama-nama sahabat berdasarkan nama qabilah. Mereka dahulukan nama Banu Hasyim, kemudian qabilah yang terdekat dengan Rasulullah.
c) Dengan menyusun nama-nama sahabat berdasarkan kronologik masuk Islamnya. Mereka dahulukan sahabat-sahabat yang termasuk assabiqunalawwalun kemudian ahlul badr, kemudian ahlul Hudaibiyah, kemudian yang turut hijrah dan seterusnya.
d) Dengan menyusun sebagaimana yang ketiga dan dibagi-bagi berdasarkan awanir, awahi, ikhbar, ibadat, dan af’alun nabi. Seperti yang ditempuh oleh Ibnu Hibban dalam shahehnya.
3. Penyusunan berdasarkan abjad-abjad huruf dari awal matan hadits, seperti yang ditulis oleh Abu Mansur Abdailani dalam Musnadul Firdausi dan oleh as-Suyutidalam Jami’ush-Shagir.

b) Kitab-kitab Hadits pada Abad ke-1 H.
1. Ash-Shahifah oleh Imam ‘Ali bin Abi Thalib.
2. Ash-Shadiqah oleh Imam ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash.
3. Daftar oleh Imam Muhammad bin Muslim (50-124 H).
4. Kutub oleh Imam Abu Bakar bin Hazmin.
Keempat-empatnya tidak sampai ke tangan kita, jadi hanya berdasarkan keterangan sejarah saja yang dapat dipertanggungjawabkan.

c) Kitab-kitab Hadits pada Abad ke-2 H.
1. Al-Musnad oleh Imam Abu Hanifah an-Nu’man (wafat150 H).
2. Al-Muwaththa oleh Imam Malik Anas (93-179 H).
3. Al-Musnad oleh Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (150-204 H).
4. Mukhtaliful Hadits oleh Muh. bin Idris Asy-Syafi’i (150-204 H).
5. Al-Musnad oleh imam ‘Ali Ridha al-Kadzim (148-203 H).
6. Al-Jami’ oleh Abdulrazaq al-Hamam ash-Shan’ani (wafat 311 H).
7. Mushannaf oleh Imam Syu’bah bin Jajaj (80-180 H).
8. Mushannaf oleh Imam Laits bin Sa’ud (94-175 H).
9. Mushannaf oleh Imam Sufyan bin ‘Uyaina (107-1990 H).
10. As-Sunnah oleh Imam Abdurrahman bin ‘Amr al-Auza’i (wafat 157 H).
11. As-Sunnah oleh Imam Abl. bin Zubair b. Isa al-Asadi.
Seluruh kitab-kitab hadits yang ada pada abad ini tidak sampai kepada kita kecuali 5 buah saja, yaitu nomor 1 sampai dengan nomor 5.
d) Kitab-kitab Hadits pada Abad ke-3 H.
1. Ash-Shahih oleh Imam Muh. bin Ismail al-Bukhari (194-256 H).
2. Ash-Shahih oleh Imam Muslim al-Hajjaj (204-261 H).
3. As-Sunan oleh Imam Abu Isa At-Tirmidzi (209-279 H).
4. As-Sunan oleh Imam Abu Dawud Sulaiman bin Al-Asy’at (202-275 H).
5. As-Sunan oleh Imam Ahmad bin Sya’ab an-Nasai (215-303 H).
6. As-Sunan oleh Imam Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman ad-Damiri (181-255 H).
7. As-Sunan oleh Imam Muhammad bin Yazid bin Majah Ibnu Majah (209-273 H).
8. Al-Musnazd oleh Imam Ahmad bin Hambal (164-241 H).
9. Al-Muntaqa Al-Ahkam oleh Imam Abd. Hamid bin Jarud (wafat 307 H).
10. Al-Mushannaf oleh Imam Ibn. Abi Syaibah (wafat 235 H).
11. Al-Kitab oleh Muhammad Sa’id bin Manshur (wafat 277 H).
12. Al-Mushannaf oleh Muhammad Sa’id bin Manshur (wafat 277 H).
13. Tandzibul Afsar oleh Imam Muhammad bin Jarir at-Thobari (wafat 310 H).
14. Al-Musnadul Kabir oleh Imam Baqi bin Makhlad al-Qurthubi (wafat 276 H).
15. Al-Musnad oleh Imam Ishak bin Rawahaih (wafat 237 H).
16. Al-Musnad oleh Imam ‘Ubaidilah bin Musa (wafat 213 H).
17. Al-Musnad oleh Imam Abdibni ibn Humaid (wafat 249 H).
18. Al-Musnad oleh Imam Abu Ya’la (wafat307 H).
19. Al-Musnad oleh Imam Ibnu Abi Usamah al-Harits Ibn Muhammad at-Tamimi (wafat 282 H).
20. Al-Musnad oleh Imam Ibnu Abi ‘Ashim Ahmad bin Amr asy-Syaibani (wafat 287 H).
21. Al-Musnad oleh Imam Ibnu Abi ‘Amrin Muhammad bin Yahya Aladani (wafat 243 H).
22. Al-Musnad oleh Imam Ibrahim bin Al-Askari (wafat 282 H).
23. Al-Musnad oleh Imam bin Ahmad bin Syu’aib an-Nasai (wafat 303 H).
24. Al-Musnad oleh Imam Ibrahim bin Ismail at-Tusi al-Anbari (wafat 280 H).
25. Al-Musnad oleh Imam Musaddad bin Musarhadin (wafat 228 H).
Dan masih banyak sekali musnad yang ditulis para ulama abad ini.

e) Kitab-kitab Hadits pada Abad ke-4 H.
1. Al-Mu’jam Kabir, ash-shaqir dan al-Ausath oleh Imam Sulaiman bin Ahmad ath-Thabrani
(wafat 360 H).
2. As-Sunan oleh Imam Daruqutni (wafat 385 H).
3. Ash-Shahih oleh Imam Abu Hatim Muhammad bin Habban (wafat 354 H).
4. Ash-Shahih oleh Imam Abu ‘Awanah Ya’qub bin Ishaq (wafat 316 H).
5. Ash-Shahih oleh Imam Ibnu Huzaimah Muhammad bin Ishaq (wafat 311 H).
6. Al-Muntaqa oleh Imam Ibnu Saqni Sa’id bin ‘Usman al-Baqhdadi (wafat 353 H).
7. Al-Muntaqa oleh Imam Imam Qasim bin Ashbagh (wafat 340 H).
8. Al-Mushannaf oleh Imam Thahawi (wafat 321 H).
9. Al-Musnad oleh Imam Ibnu Jami Muhammad bin Ahmad (wafat 402 H).
10. Al-Musnad oleh Imam Muhammad bin Ishaq (wafat 313 H).
11. Al-Musnad oleh Imam Hawarizn (wafat 425 H).
12. Al-Musnad oleh Imam Ibnu Natsir ar-Razi (wafat 385 H).
13. Al-Mustadrak ‘ala -Shahihaini oleh Imam Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Hakim
an-Natsaburi (321-405 H).

f) Tingkatan Kitab Hadits.

Menurut penyelidikan para ulama ahli hadits secara garis besar tingkatan kitab-kitab hadits tersebut bisa dibagi sebagai berikut:
1. Kitab Hadits ash-Shahih yaitu kitab-kitab hadits yang telah diusahakan para penulisnya untuk hanya menghimpun hadits-hadits yang shahih saja.
2. Kitab-kitab Sunan yaitu kitab-kitab hadits yang tidak sampai kepada derajat munkar. Walaupun mereka memasukkan juga hadits-hadits yang dha’if (yang tidak sampai kepada munkar). Dan sebagian mereka menjelaskan kedha’ifannya.
3. Kitab-kitab Musnad yaitu kitab-kitab hadits yang jumlahnya sangat banyak sekali.
Para penghimpunnya memasukkan hadits-hadits tersebut tanpa penyaringan yang seksama dan teliti. Oleh karena itu di dalamnya bercampur baur di antara hadits-hadits yang shahih, yang dha’if, dan yang lebih rendah lagi. Adapun kitab-kitab lain adalah disejajarkan dengan al-Musnad ini. Di antara kitab-kitab hadits yang ada maka Shahih Bukhari-lah kitab hadits yang terbaik dan menjadi sumber kedua setelah al-Qur’an, dan kemudian menyusul hadits Muslim. Ada para ulama hadits yang meneliti kitab Muslim lebih baik daripada Bukhari, tetapi ternyata kurang dapat dipertanggungjawabkan, walaupun dalam cara penyusunan hadits-hadits, kitab Muslim lebih baik daripada kitab Bukhari, sedang syarat-syarat hadits yang digunakan Bukhari ternyata tetap lebih ketat dan lebih teliti daripada apa yang ditempuh Muslim. Seperti tentang syarat yang diharuskan Bukhari berupa keharusan kenal baik antara seorang penerima dan penyampai hadits, di mana bagi Muslim hanya cukup dengan muttashil (bersambung) saja.

g) Kitab-kitab Shahih selain Bukhari Muslim.

Ada beberapa ulama yang telah berusaha menghimpun hadits-hadits shahih sebagaimana yang ditempuh Bukhari dan Muslim, akan tetapi menurut penyelidikan ahli-ahli hadits ternyata kitab-kitab mereka tidak sampai kepada tingkat kualitas kitab-kitab Bukhari dan Muslim. Para ulama yang menyusun kitab shahih tersebut ialah:
1. Ibnu Huzaimah dalam kitab ash-Shahih.
2. Abu ‘Awanah dalam kitab ash-Shahih.
3. Ibnu Hibban dalam kitab at-Taqsim Walarbu.
4. Al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak.
5. Ibnu Jarud dalam kitab al-Muntaqa.
6. Ibnu Abdil Wahid al-Maqdisi dalam kitab al-Mukhtarah.

Menurut sebagian besar para ulama hadits, di antara kitab-kitab hadits ada 7 (tujuh) kitab hadits yang dinilai terbaik yaitu:
1. Ash-Shahih Bukhari.
2. Ash-Shahih Muslim.
3. Ash-Sunan Abu Dawud.
4. As-Sunan Nasa’i.
5. As-Sunan Tarmidzi.
6. As-Sunan Ibnu Majah.
7. Al-Musnad Imam Ahmad.

Perkembangan Ilmu Hadits.

Ilmu hadits yang kemudian populer dengan ilmu Mushthalah hadits adalah salah satu cabang disiplin ilmu yang semula disusun oleh Abu Muhammad ar-Rama al-Hurmuzi (wafat 260 H). Walaupun norma-norma umumnya telah timbul sejak adanya usaha pengumpulan dan penyeleksian hadits oleh masing-masing penulis hadits.
Secara garis besarnya ilmu hadits ini terbagi menjadi ada dua macam yaitu Ilmu hadits riwayatan dan dirayatan. Ilmu hadits dirayatan membahas hadits dari segi diterima atau tidaknya, sedang ilmu hadits riwayatan membahas materi hadits itu sendiri.
Dalam perkembangan berikutnya telah lahir berbagai cabang ilmu hadits, seperti:
a) Ilmu rijalul hadits, ilmu yang membahas mereka yang berperan dalam periwayatan hadits.
b) Ilmu jarh wat-ta’dil, ilmu yang membahas tentang jujur dan tidaknya pembawa-pembawa hadits.
c) Ilmu fanilmubhamat, ilmu yang membahas tentang orang yang tidak nampak peranannya dalam periwayatan suatu hadits.
d) Ilmu tashif wat-tahrif, ilmu yang membahas tentang hadits-hadits yang berubah titik atau bentuknya.
e) Ilmu ‘ilalil hadits, ilmu yang membahas tentang penyakit-penyakit yang tidak nampak dalam suatu hadits yang dapat menjatuhkan kualitas suatu hadits tersebut.
f) flmu gharibil hadits, ilmu yang membahas kalimat-kalimat yang sukar dalam hadits.
g) Ilmu asbabi wurudil hadits, ilmu yang membahas tentang sebab timbulnya suatu hadits.
h) Ilmu talfiqil hadits, ilmu yang membahas tentang cara mengumpulkan hadits-hadits yang nampaknya bertentangan.
i) dan lain-lain.

Seleksi Hadits.

Dengan menggunakan berbagai macam ilmu hadits itu, maka timbullah berbagai macam nama hadits, yang disepakati oleh para ulama, yang sekaligus dapat menunjukkan jenis, sifat, bentuk dan kualitas dari sesuatu hadits. Yang paling penting untuk diketahui adalah pembagian hadits itu atas dasar kualitasnya yaitu:
a) Maqbul (dapat diterima sebagai pedoman) yang mencakup hadits shahih dan hadits hasan.
b) Mardud (tidak dapat diterima sebagai pedoman) yang mencakup hadits dha’if (lemah) dan maudhu’ palsu).

Usaha seleksi itu diarahkan pada tiga unsur hadits, yaitu:
a. Matan (materi hadits).
Suatu materi hadits dapat dinilai baik apabila materi hadits itu tidak bertentangan dengan al-Qur’an atau hadits lain yang lebih kuat, realita, fakta sejarah, dan prinsip-prinsip pokok ajaran Islam. Untuk sekedar contoh dapat kita perhatikan hadits-hadits yang dinilai baik tapi bertentangan isi materinya dengan al-Qur’an:
1. Hadits yang mengatakan bahwa “Seorang mayat akan disiksa Tuhan karena ratap tangis ahli warisnya”, adalah bertentangan dengan firman Allah “Wala taziru waziratun wizra ukhra” yang artinya “Dan seseorang tidak akan memikul dosa orang lain” (al-An’am:164).
2. Hadits yang mengatakan “Barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan meninggalkan hutang puasa, maka hendaklah dipuasakan oleh walinya”, adalah bertentangan dengan firman Allah ” wa allaisa lil insani illa ma-sa’a”, yang artinya “dan seseorang tidak akan mendapat pahala apa-apa kecuali dari apa yang dikerjakan dia sendiri” (an-Najm: 39).
b. Sanad (persambungan antara pembawa dan penerima hadits).
Suatu persambungan hadits dapat dinilai segi baik, apabila antara pembawa dan penerima hadits benar-benar bertemu bahkan dalm batas-batas berguru. Tidak boleh ada orang lain yang berperanan dalam membawakan hadits tapi tidak nampak dalam susunan pembawa hadits itu. Apabila ada satu kaitan yang diragukan antara pembawa dan penerima hadits, maka hadits itu tidak dapat dimasukkan dalam kriteria hadits yang maqbul.
c. Rawi (orang-orang yang membawakan hadits).
Seseorang yang dapat diterima haditsnya ialah yang memenuhi syarat-syarat : 1). ‘Adil, yaitu orang Islam yang baliqh dan jujur, tidak pernah berdusta dan tidak membiasakan dosa. 2). Hafizh, yaitu kuat hafalannya atau mempunyai catatan pribadi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Berdasarkan kriteria-kriteria seleksi tersebut, maka jumhur (mayoritas) ulama berpendirian bahwa Kitab ash-Shahih Bukhari dan Kitab ash-Shahih Muslim dapat dijamin keshahihannya ditinjau dari segi sanad dan rawi. Sedang dari segi matan kita dapat memberikan seleksinya dengan pedoman-pedoman di atas.

Beberapa langkah praktis dalam usaha seleksi hadits, apakah suatu hadits itu maqbul atau tidak adalah:
1. Perhatikan matannya sesuai dengan norma di atas.
2. Perhatikan kitab pengambilannya (rawahu: diriwayatkan atau ahrajahu: dikeluarkan).
Apabila matannya baik diriwayatkan oleh Bukhari atau Muslim, maka dapat dinilai hadits itu shahih atau paling rendah hasan.
Dengan demikian maka dapat dikatakan shahih apabila ujung hadits itu oleh para ulama diberi kata-kata:
a. Diriwayatkan / dikeluarkan oleh jama’ah.
b. Diriwayatkan / dikeluarkan oleh imam 7.
c. Diriwayatkan / dikeluarkan oleh imam 6.
d. Diriwayatkan / dikeluarkan oleh dua syaikh (Bukhari dan Muslim).
e. Disepakati oleh Bukhari dan Muslim (Muttafaqun ‘alaihi).
f. Diriwayatkan oleh Bukhari atau oleh Muslim saja.
g. Diriwatkan oleh … dan disyahkan oleh Bukhari dan Muslim, Bukhari atau Muslim.
h. Diriwayatkan oleh … dengan syarat Bukhari atau Muslim.
3. Apabila suatu hadits sudah baik materinya tetapi tidak termasuk dalam persyaratan di atas maka hendaknya diperhatikan komentar-komentar ulama terhadap hadits itu seperti:
 Komentar baik: Hadits Mutawir, quwat, hadits shahih, hadits jayyid, hadits baik, hadits pilihan dan sebagainya.
 Komentar buruk: Hadits putus, hadits lemah, hadits ada illatnya, mauquf, maqthu, mudallas, munkar, munqathi, muallak, dan lain sebagainya.
Dalam hal ini kita akan menemukan sesuatu hadits yang mendapat penilaian berbeda / bertentangan antara seorang ulama dan lainnya. Maka langkah kita adalah dahulukan yang mencela sebelum yang memuji (“Aljarhu muqaddamun’alat ta’dil”). Hal ini apabila dinilai oleh sama-sama ahli hadits.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa tidak semua komentar ulama tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Artinya suatu hadits yang dikatakan oleh para ulama shahih, kadang-kadang setelah diteliti kembali ternyata tidak demikian. Contohnya dalam hadits kita akan menemukan kata-kata “dan dishahihkan oleh Imam Hakim, oleh Ibnu Huzaimah” dan lain-lain, tetapi ternyata hadits tersebut tidak shahih (belum tentu shahih).
4. Apabila langkah-langkah di atas tidak mungkin ditempuh atau belum memberikan kepastian tentang keshahihan suatu hadits, maka hendaknya digunakan norma-norma umum seleksi, seperti yang diterangkan di atas, yaitu menyelidiki langsung sejarah para rawi dan lain-lain, dan untuk ini telah disusun oleh para ulama terdahulu sejumlah buku-buku yang membahas tentang sejarah dan keadaan para hadits, seperti yang pernah dilakukan oleh al-Bukhari dalam bukunya adh-Dhu’afa (kumpulan orang-orang yang lemah haditsnya).

Masalah hadits-hadits palsu (Maudhu’).

Perpecahan di bidang politik di kalangan ummat Islam yang memuncak dengan peristiwa terbunuhnya ‘Utsman bin ‘Affan, Khalifah ke-3 dari khulafa’ur rasyidin, dan bentrok senjata antara kelompok pendukung ‘Ali bin Abi Thalib dan pendukung Mu’awiyah bin Abu Sufyan, telah mempunyai pengaruh yang cukup besar ke arah timbulnya usaha-usaha sebagian ummat Islam membuat hadits-hadits palsu guna kepentingan politik.
Golongan Syi’ah sebagai pendukung kepemimpinan ‘Ali dan keturunannya yang kemudian tersingkir dari kekuasaan politik waktu itu, telah terlibat dalam penyajian hadits-hadits palsu untuk membela pendirian politiknya. Golongan ini termasuk golongan yang paling pertama dalam usaha membuat hadits-hadits palsu yang kemudian disusul oleh banyak kelompok ummat Islam yang tidak sadar akan bahaya usaha-usaha demikian.
Golongan Rafidhah (salah satu sekte Syi’ah) dinilai oleh sejarah sebagai golongan yang paling banyak membuat hadits-hadits palsu itu. Di antara hadits-hadits palsu yang membahayakan bagi kemurnian ajaran Islam, terutama yang dibuat oleh orang-orang jahat yang sengaja untuk mengotorkan ajaran Islam dan menyesatkan ummatnya, seperti orang Yahudi, orang Zindik, dan lain sebagainya. Kemudian yang kedua yang dibuat oleh ummat Islam sendiri yang maksudnya baik seperti untuk mendorong ummat Islam beribadah lebih rajin dan lain sebagainya, tetapi lupa akan dasar yang lebih pokok dan lebih prinsipil dalam agama.
Dengan demikian motif-motif hadits palsu itu dapat kita simpulkan antara lain sebagai berikut:
Karena politik dan kepemimpinannya;
 Karena fanatisme golongan dan bahasa;
 Karena kejahatan untuk sengaja mengotori ajaran Islam;
 Karena dorongan untuk berbuat baik tetapi bodoh tentang agama;
 Karena kesehatan-kesehatan sejarah dan lain-lain;
 Karena soal-soal fiqh dan pendapat dalam bidang ilmu kalam;
 dan lain-lain.
Keadaan demikian ini telah mendorong para ulama saleh untuk tampil ke depan berusaha mengadakan seleksi dan koreksi serta menyusun norma-norma dalam memilih hadits-hadits yang baik dan yang palsu. Mereka sempat mengumpulkan sejumlah nama-nama orang yang baik dan sejumlah nama-nama orang yang biasa membuat hadits palsu. Mereka menyusun kitab-kitab khusus yang membahas hadits-hadits yang baik.

Beberapa ciri-ciri Hadist PALSU antara lain:

Pengakuan pembuatnya.
Di dalam catatan sejarah sering terjadi para pembuat hadits palsu berterus-terang atas perbuatan jahatnya, baik karena terpaksa maupun karena sadar dan taubat.
 Abu Ismah Nuh bin Maryam (bergelar Nuh al-Jami) telah berterus terang mengakui perbuatannya dalam membuat hadits-hadits palsu yang berhubungan dengan keutamaan-keutamaan surat al-Qur’an. Ia sandarkan hadits-haditsnya kepada Ibnu ‘Abbas.
 Maisarah bin ‘Abdi Rabbih al-Farisi, juga telah berterus terang mengakui perbuatannya membuat hadits-hadits palsu tentang keutamaan al-Qur’an dan keutamaan ‘Ali bin Abi Thalib.
Dalam hal ini memang perlu kita catat bahwa tidak semua pengakuan tersebut lantas harus secara otomatis kita percayai. Sebab mungkin saja pengakuannya itu justru adalah dusta dan palsu.

Perawinya sudah terkenal
sebagai pembuat hadits-hadits maudhu’, dan hadits atau keterangan lain yang baik tidak ada sama sekali (dalam soal yang sama).

Isi atau materinya bertentangan dengan akal pikiran yang sehat.
Sebagai contoh hadits-hadits sebagai berikut:
“Sesungguhnya perahu Nuh bertawaf tujuh kali mengelilingi ka’bah dan shalat di makam Ibrahim dua raka’at”, atau “Sesungguhnya tatkala Allah menciptakan hyryf maka bersujudlah ba dan tegaklah alif’.”

Isinya bertentangan dengan ketentuan agama, ‘aqidah Islam. Sebagai contoh:
“Aku adalah penghabisan nabi-nabi. Tidak ada nabi sesudahku kecuali apabila dikehendaki Allah”, ‘Allah menciptakan malaikat dari rambut, tangan, dan dada”.

Isinya bertentangan dengan ketentuan agama yang sudah qath’i ,seperti hadits-hadits:
‘Anak zina tidak masuk sorga hingga tujuh turunan”; atau “Barangsiapa yang memperoleh anak, dan kemudian diberi nama Muhammad, maka dia dan anaknya akan masuk sorga”.

Isinya mengandung obral pahala dengan amal yang sangat sederhana, seperti hadits-hadits:
“Barangsiapa membaca La ilaha illallah maka Allah akan menjadikan baginya seekor burung yang mempunyai tujuh puluh lidah. Pada tiap-tiap lidah tujuh puluh ribu bahasa yang memohon ampun kepada Allah untuk orang tersebut”; atau “Barangsiapa menafkahkan satu tali untuk mauludku maka aku akan menjadi penolongnya di Yaumil Qiyamah”.

Isinya mengandung kultus-kultus individu. Seperti hadits-hadits:
“Di tengah ummatku kelak akan ada orang diberi nama Abu Hanifah an-Nu’man, ia adalah pelita ummatku”; atau “Abbas itu adalah wasiatku dan ahli warisku”.

Isinya bertentangan dengan fakta sejarah.
Seperti hadits-hadits yang menerangkan bahwa nabi pernah diberi semacam buah dari sorga pada saat mi’raj. Setelah kembali dari mi’raj kemudian bergaul dengan Khadijah dan lahirlah Fatimah dan seterusnya. Hadits ini bertentangan dengan fakta sejarah sebab mi’raj itu terjadi setelah wafatnya Khadijah dan setelah Fatimah lahir.

Contoh-contoh Hadits Maudhu’ berdasarkan motifnya.

a) Motif politik dan kepemimpinan.
“Apabila kamu melihat Mu’awiyah di atas mimbarku, maka bunuhlah”;
“Orang yang berkepercayaan hanyalah tiga. Aku, Jibril, dan Mu’awwiyah”.

b) Motif zindik (untuk mengotorkan agama Islam).
“Melihat muka yang cantik adalah ibadah”;
“Rasulullah ditanya dari apakah Tuhan kita itu? Jawabnya tuhan itu dari air yang mengalir, bukan dari tanah dan bukan dari langit. Tuhan menciptakan kuda dan kemudian dijalankannya sampai berkeringat. Maka Allah menciptakan dirinya dari keringat tersebut.”

c) Motif ta’assub dan fanatisme.
“Sesungguhnya Allah apabila marah, maka menurunkan wahyu dalam bahasa Arab. Dan apabila
tidak marah menurunkannya dalam bahasa Parsi”.
“Di kalangan ummatku akan ada seorang yang bernama Abu Hanifah an-Nu’man. Ia adalah pelita
ummatku”;
“Di kalangan ummatku akan ada seorang yang diberi nama Muhammad bin Idris. Ia adalah yang
menyesatkan ummatku lebih dari pada Iblis”.

d) Motif faham-faham fiqh.
“Barangsiapa mengangkat tangannya di dalam shalat maka tidak sah shalatnya”;
“Berkumur dan mengisap air bagi junub tiga kali adalah wajib”;
“Jibril mengimamiku di depan ka’bah dan mengeraskan bacaan bismillah”.

e) Motif senang kepada kebaikan tapi bodoh tentang agama.
“Barangsiapa menafkahkan satu tali untuk mauludku maka aku akan menjadi penolongnya di Yaumil Qiyamah”.
Seperti hadits-hadits tentang fadhilah surat-surat al-Qur’an, obral pahala dan sebagainya.

f) Motif penjilatan kepada pemimpin.
“Ghiyas bin Ibrahim an-Nakha’i al-Kufi pernah masuk ke rumah mahdi (salah seorang penguasa)
yang senang sekali kepada burung merpati. Salah seorang berkata kepadanya, coba terangkan
kepada amirul mukminin tentang suatu hadits, maka berkatalah Ghiyas ‘Tidak ada taruhan
melainkan pada anak panah, atau unta atau kuda, atau burung’.”

Persoalan-persoalan yang ditetapkan oleh hadits-hadits maudhu’.

Untuk menjelaskan persoalan-persoalan tersebut di sini pada kutipan uraian ustadz Abdul Qadir Hassan dalam buku Ilmu Hadits, juz 2 diantaranya :
1. Hadits yang menyuruh orang sembahyang pada malam Jum’at 12 raka’at dengan bacaan surat al-Ikhlas 10 kali.
2. Hadits yang menyuruh orang senbahyang pada malam jum’at 2 raka’at dengan bacaan surat Zalzalah 15 kali (ada juga yang menerangkan 50 kali).
3. Hadits-hadits sembahyang pada hari Jum’at dua raka’at, empat raka’at, dan duabelas raka’at.
4. Hadits-hadits sebelum sembahyang Jum’at, ada sembahyang 4 raka’at dengan bacaan al-Ikhlas 50 kali.
5. Hadits-hadits sembahyang asyura.
6. Hadits-hadits sembahyang ghaib.
7. Hadits-hadits sembahyang malam dari bulan Rajab.
8. Hadits-hadits sembahyang malam ke-27 dari bulan Rajab.
9. Hadits-hadits sembahyang malam nifsu sya’ban 100 raka’at dalam tiap-tiap raka’at 10 kali bacaan
surat al-Ikhlas.
10. Hadits-hadits yang menerangkan hal nabi Khidir dan hidupnya.
11. Hadits-hadits sembahyang hari Ahad, malam Ahad, Senin, malam Senin, Selasa, malam Selasa, Rabu,malam Rabu, Kamis, malam Kamis, Jum’at, malam Jum’at, Sabtu, dan malam Sabtu.
12. Hadits-hadits yang menerangkan hal-hal yang akan terjadi dengan sebutan “apabila pada tahun sekian maka akan terjadi ini dan itu”, atau yang berbunyi “Dalam bulan…akan…”.
13. Hadits-hadits yang menerangkan fadhilah-fadhilah surat al-Qur’an dan ganjaran orang yang
membacanya dari surat al-Fatihah sampai akhir surat al-Qur’an yang berbunyi “Barangsiapa membaca surat ini …akan mendapat ganjaran…”.
14. Hadits-hadits yang berisi bacaan-bacaan bagi anggota wudhu’.
15. Hadits-hadits yang menerangkan naasnya hari-hari.
16. Hadits-hadits yang didalamnya terdapat pujian-pujian kepada orang-orang yang bagus mukanya atau yang ada perintah melihat mereka atau yang ada perintah mencari hajat kita dari mereka atau yang menyebut bahwa mereka tidak disentuh neraka.
17. Hadits-hadits yang berhubungan dengan kejadian akal manusia.
18. Hadits-hadits yang berisi celaan terhadap bangsa Habsyi, Sudan, dan Turki.
19. Hadits-hadits yang berkenaan dengan burung merpati seperti riwayat: Adalah Nabi Muhammad saw sangat suka melihat burung merpati atau riwayat: Peliharalah burung merpati yang sudah
dipotong bulunya ini dalam rumah kamu, karena sesungguhnya ia bisa melalaikan jin daripada
(mengganggu) anak-anak kamu dan sebagainya.
20. Hadits-hadits yang berhubungan dengan ayam seperti hadits yang berbunyi: Ayam itu, kambing bagi orang-orang miskin dari ummatku. Dan seumpamanya.
21. Hadits-hadits yang mengandung celaan terhadap anak-anak, salah satu di antaranya berbunyi: Kalau salah seorang dari kamu mendidik seekor anak anjing sesudah tahun 160, itu adalah lebih baik daripada ia mengasuh seorang anak laki-laki.
22. Hadits-hadits yang bersifat pujian terhadap Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i dan hadits-hadits
yang mengandung celaan terhadap kedua imam tersebut.
23. Hadits-hadits pujian terhadap orang bujangan (tidak kawin).
24. Hadits-hadits yang ada pujian bagi ‘adas, beras, kacang kuda, terung, delima, kismis, bawang,
semangka, keju, bubur, daging, dan lain-lain.
25. Hadits-hadits yang menyebut keutamaan bunga-bungaan.
26. Hadits-hadits yang melarang dan membolehkan main catur.
27. Hadits-hadits yang melarang makan di dalam pasar.
28. Hadits-hadits yang mengandung keutamaan bulan Rajab dan puasa padanya.
29. Hadits-hadits yang mencela sahabat-sahabat nabi: Mu’awiyah, ‘Amr bin ‘ash, Bani Umayyah, dan Abi Musa.
30. Hadits-hadits yang berisi pujian dan celaan terhadap negeri-negeri Baghdad, Bashrah, Kufah, Asqalam,Iskandariyah, dan lain sebagainya.
31. Hadits-hadits tentang keutamaan Mu’awiyah.
32. Hadits-hadits yang berisi keutamaan-keutamaan bagi ‘Ali bin Abi Thalib.
33. Himpunan hadits-hadits lemah dan palsu oleh A.Yarid.Qasim Koko.

Ceramah-ceramah agama di tengah-tengah masyarakat Islam sampai sekarang ini masih sering menyajikan hadits-hadits palsu.
 Pada peringatan mauludan masih sering kali terdengar: “Barangsiapa menafkahkan satu tali untuk mauludku aku akan menolongnya di Yaumil Qiyamah”.
 Pada peringatan Isra’ dan Mi’raj masih sering pula disajikan dongeng-dongengan yang menceritakan tentang gambaran kendaraan Rasulullah, buraq, digambarkan sebagai berwajah wanita, berbadan seperti kuda, sayapnya pada paha, dan lain sebagainya.
 Siratol Mustaqim yang terdapat dalam surat al-Fatihah dilukiskan sebagai jembatan yang sangat kecil seperti rambut dibelah tujuh, lebih tajam dari pedang yang paling tajam, dan seterusnya.
 Selain itu populer pula di kalangan ummat Islam, pepatah-pepatah dari orang-orang-tertentu atau kata-kata hikmah dalam bahasa Arab, yang dinilai dan populer sebagai sabda Nabi saw. Mungkin karena isinya cukup baik maka masyarakat Islam menilainya sebagai sabda Rasulullah itu.

Contoh antara lain:
 “Cinta tanah air itu adalah sebagian daripada iman”.
 “Islam tidak akan ada tanpa adanya organisasi. Organisasi tidak akan ada tanpa adanya pemimpin.
 Pemimpin tidak akan ada tanpa adanya kepatuhan”.
 “Agama itu akal pikiran. Tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal pikiran”.
 “Engkau lihat kotoran nyamuk pada muka orang lain, dan engkau tidak melihat kotoran unta pada mukamu sendiri”.
 “Terkadang kefakiran itu mendorong kepada kekufuran”.

Kitab-kitab yang meriwayatkan hadits-hadits palsu.

Di antara kitab-kitab yang banyak menggunakan hadits-hadits maudhu’ ini ialah kitab-kitab seperti Tafsir Baidhawi, Tafsir Kilbi, dan lain sebagainya. Kitab-kitab tasawwuf dan kitab-kitab akhlaq dan juga banyak terlibat dalam penyajian-penyajian hadits palsu.
Di Indonesia masih banyak pesantren-pesantren dan buku-buku yang terlibat dalam penyebaran hadits-hadits palsu. Dan sampai saat ini ummat Islam belum mempunyai suatu lembaga khusus yang bertugas mengoreksi buku-buku yang menyajikan hadits-hadits yang maudhu’ (palsu) dalam skala nasional. Yang sudah ada adalah lembaga Pentashih al-Qur’an di bawah Departemen Agama Republik Indonesia.

MENGAPAKAH AL-KITAB DAN AL-QUR’AN
TIDAK SALING BERSETUJU?

Meskipun terdapat persamaan yang berpunca daripada subjek perbincangan yang sama, sejarah dan watak-watak, Al-Kitab dan Al-Qu’ran berbeza luas pada konsep-konsep iman yang asas dan amalan keagamaan.
Terdapat sekurang-kurangnya dua sebab yang mungkin:
1. Al-Kitab dan Al-Qur’an tidak mempunyai punca yang sama, iaitu salah satu atau kedua-duanya berasal dari perbuatan manusia ataupun kuasa luarbiasa.
2. Al-Kitab atau Al-Qur’an atau kedua-duanya telah menjalani penyuntingan and akibatnya mesej dan sifat aslinya telahpun hilang.
Seterusnya, salah satu daripada kedua-dua Kitab tersebut, atau kedua-keduanya, mengandungi kesalahan dan tidak boleh digelarkan ‘sumber yang boleh dipercayai’. Kedua-dua orang Islam dan orang Kristian amat yakin dan pasti bahawa Kitab masing-masing berasal dari Tuhan dan boleh dipercayai. Satu (atau kedua-dua Kitab) itu mestilah palsu. Dalam kes itu, berjuta-juta penganut kedua-dua agama tersebut masing-masing menaruh harapan mereka untuk dunia akhirat pada kesilapan atau mahupun penipuan.
Wakil-wakil dari kedua-dua agama itu telahpun mula membentangkan pokok perbincangan masing-masing, tetapi oleh kerana semua telahpun berpegang dengan pendirian yang kukuh, sikap yang objektif adalah mustahil untuk dicapai. Saya, sebagai seorang Kristian, mungkin tidak begitu bersikap objektif terhadap agama Islam sebagaimana yang sepatutnya – dan begitu juga pembaca beragama Islam mungkin bersikap tidak adil terhadap Al-Kitab.
Di dalam rangka penyelidikan-penyelidikan ini, kami akan menyentuh pada hakikat-hakikat spiritual dan bersejarah sahaja yang telah diperdirikan kukuh dan tidak akan melibatkan diri dalam polemik falsafah. Kami juga tidak mahu berbalah mengenai konsep-konsep teologi , tetapi ingin membincang perkara-perkara yang boleh diselidiki and diiktirafkan oleh sesiapa di mana-manapun – andainya orang itu dapat memeriksa sumber-sumber yang diperkatakan. Untuk tujuan tersebut satu percubaan telah dijalankan untuk mendokumentasikan segala pendakwaan, penuntutan dan pernyataan, seboleh-bolehnya dengan amat teliti.
Sejak kebelakangan ini, Al-Qur’an telah menjalani proses “spiritualization”. Beberapa orang Islam sebenarnya menggunakan konsep-konsep Kristian yang asing kepada Al-Qur’an dan pemikiran tradisi, dan menerangkan bahawa itu adalah sifat agama Islam. Sentimen-sentimen sebegitu sukar diterima kecuali jikalau boleh disokong oleh hasil penulisan Islam yang lama.
Oleh kerana Al-Kitab wujud sebelum Al-Qur’an, perbezaan-perbezaan antara kedua-dua Kitab itu boleh diselesaikan dengan memberikan:
1. Bukti yang mengesahkan bahawa Al-Qur’an adalah berdasarkan kefahaman dan pengetahuan yang lemah mahupun palsu mengenai wahyu yang lebih awal dan lebih tua. (Tuhan tidak berubah, dan tidak akan memberi Wahyu yang bercanggah kepada Nabi-nabi yang berlainan.)
2. Bukti yang mengesahkan bahawa perubahan telah dijalankan dalam mesej Al-Kitab oleh orang Yahudi dan/atau orang Kristian dengan memberikan sebab-sebab yang munasabah mengapa perbuatan tersebut telah dilakukan.
Al-Qur’an berulang-kali menekankan bahawa Taurat dan Injil – kami mengambil ini untuk memaksudkan Perjanjian Lama dan Baru – adalah Wahyu dari Tuhan yang sama dengan Allah dari Al-Qur’an.
Apa yang diajar oleh Al-Qur’an mengenai Al-Kitab
“Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dan Nabi Ishaq dan Nabi Ya`qub serta anak-anaknya, dan juga kepada apa yang diberikan kepada Nabi Musa dan Nabi Isa, dan kepada apa yang diberikan kepada Nabi-nabi dari Tuhan mereka; KAMI TIDAK MEMBEZA-BEZAKAN ANTARA SESEORANG DARIPADA MEREKA.” (S. Baqarah 2:136)
“Allah, tiada Tuhan melainkan Dia, Yang Tetap Hidup, Yang Kekal selama-lamanya… Ia menurunkan Kitab-kitab Taurat dan Injil… menjadi pertunjuk bagi umat manusia.” (S. A-li-‘Imraan 3:2-3)
“Wahai orang-orang yang beriman! Tetapkanlah iman kamu kepada Allah dan RasulNya – … dan juga kepada Kitab-kitab Suci yang telah diturunkan dahulu daripada itu.” (S. Nisaa’ 4:136)
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat, yang mengandungi pertunjuk dan cahaya yang menerangi… dan sesiapa yang tidak menghukum dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir…. Dan Kamu utuskan Nabi ‘Isa Ibni Maryam mengikuti jejak langkah mereka, untuk membenarkan Kitab Taurat yang diturunkan sebelumnya; dan Kami telah berikan kepadanya Kitab Injil, yang mengandungi pertunjuk hidayah dan cahaya yang menerangi….pertunjuk dan nasihat pengajaran bagi orang-orang yang bertaqwa. DAN HENDAKLAH AHLI KITAB INJIL MENGHUKUM DENGAN APA YANG TELAH DITURUNKAN OLEH ALLAH, DI DALAMNYA; DAN SESIAPA YANG TIDAK MENGHUKUM DENGAN APA YANG TELAH DITURUNKAN OLEH ALLAH, MAKA MEREKA ITULAH ORANG-ORANG YANG FASIK… jalankan hukum…. apa yang telah diturunkan oleh Allah, dan janganlah engkau mengikut kehendak hawa nafsu mereka…” (S. Maa’idah 5:22,46,47,49).
“Wahai Ahli Kitab!… tegakkan ajaran Kitab-kitab Taurat dan Injil dan apa yang diturunkan kepada kamu dari TUHAN KAMU, Dan demi sesungguhnya, apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu.” (ibid. ayat 68).
“Al-Qur’an itu… membenarkan Kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya”. (S. Yunus 10:37)
“Oleh sebab itu, sekiranya engkau merasa ragu-ragu tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka bertanyalah kepada orang-orang yang membaca Kitab-kitab yang diturunkan dahulu daripadamu. Sesungguhnya, telah datang kepadamu kebenaran dari Tuhanmu…” (ibid ayat 94)
“DAN JANGANLAH KAMU BERBAHAS DENGAN AHLI KITAB…. KATAKANLAH: “KAMI BERIMAN KEPADA YANG DITURUNKAN KEPADA KAMI AND KEPADA YANG DITURUNKAN KEPADA KAMU….” (S. Ankabut 29:46)
“Dan inilah Kitab yang Kami turunkan, yang mengandungi berkat, lagi mengesahkan kebenaran (Kitab-kitab Suci) yang diturunkan sebelumnya, dan supaya engkau memberi peringatan kepada penduduk “Ummul-Qura” (Mekah) serta orang-orang yang tinggal di kelilingnya;… ” (S. An’aam 6:92)
Apakah maksud semua ayat-ayat ini selain bahawa Muhammad menuntut membawa wahyu Allah ke Mekah dan orang Arab, mengesahkan dan menegakkan apa yang telah diturunkan sebelumnya?
“Dan Kami tidak mengutus Rasul-rasul sebelummu melainkan orang-orang lelaki yang Kami wahikan kepada mereka; maka BERTANYALAH kamu KEPADA AHLU’DZ-DZIKRI*; jika kamu tidak mengetahui.” (Surah 21:7) (*orang yang mengetahui tentang Kitab-kitab Allah – Taurat dan Injil)
Kita boleh lihat dengan jelas bahawa Al-Qu’ran membuat tanggapan bahawa “Al-Kitab” itu diturunkan oleh Allah dan menerima ketulenan kandungan isinya dalam zaman Nabi Muhammad. Namun, Al-Qu’ran mengkritik usaha memutar-belit dan penafsiran salah “Al-Kitab”:
“Wahai Ahli Kitab! Mengapa kamu campur adukkan yang benar dengan yang salah, dan kamu pula menyembunyikan kebenaran padahal kamu mengetahuinya?” (S. A-Li’ Imraan 3:71)
“Dan sesungguhnya, di antara mereka ada yang memutar-mutar lidahnya semasa membaca Kitab Taurat , supaya kamu menyangkanya sebahagian dari Kitab Taurat padahal ia bukanlah dari Kitab itu.” (S. ibid Ayat 78) (Semua penekanan di dalam petikan-petikan adalah perbuatan saya)
Sekiranya adanya apa yang jelas kelihatan, ialah Al-Qur’an kuat menekan bahawa Kitab-kitab Taurat dan Injil telah diturunkan oleh Allah. Ini adalah apa yang dipercayai oleh orang Kristian. Al-Qur’an mengatakan mengenai hal ini:
“…tidak ada perubahan pada janji-janji Allah” (S. Yunus 10:64)
“…sememangnyalah tiada sesiapa pun yang dapat mengubah Kalimah-kalimah Allah…” (S. An’aam 6:34)
Selain daripada itu, sejarah dan arkeologi menegah seseorang daripada menghujah bahawa Al-Kitab telah mengalami perubahan sejak penyenaraian rasmi buku-buku Al-Kitab dalam tahun 324 selepas Masihi. Sebenarnya, semua bahagian Perjanjian Baru dalam bentuknya sekarang telahpun luas teredar di antara gereja-gereja dari abad kedua selepas Masihi. Adalah melalui persetujuan umum pada Majlis paderi-paderi dari 318 buah gereja di mana kesemua itu telahpun diiktirafkan and diterima sebagai Apostolik dan diwahyukan. Apabila Muhammad merujuk kepada “Al-Kitab” atau “Taurat” atau “Injil”, tanpa keraguan, dia merujuk kepada apa yang telah pun teredar di Arabia dalam hari dan zamannya. Sekiranya kata-kata boleh bermaksud apa-apa, maka Muhammad merujuk kepada “Al-Kitab” sebagai Wahyu. Kami mengambil ini sebagai hakikat kukuh berdasarkan kekuatan bukti di atas, kecuali sekiranya ia boleh dibuktikan salah.
Kenapakah orang Yahudi mahupun Kristian sebelum ataupun selepas masa zaman Muhammad berminat untuk mengubah Wahyu Tuhan? Adakah dia ingin masuk ke neraka?
“Aku, Yohanes, dengan sungguh-sungguh memperingatkan setiap orang yang mendengar kata-kata nubuat kitab ini: Jika seseorang menambahkan apa sahaja pada nubuat ini, Allah juga akan menambahkan hukumannya dengan malapetaka yang digambarkan di dalam kitab ini. Jika seseorang mengurangkan kata-kata nubuat di dalam kitab ini, Allah juga akan mengambil balik hak orang itu unutk makan buah pokok sumber kehidupan dan haknya untuk tinggal di kota suci itu, seperti yang digambarkan di dalam kitab ini.” (Wahyu 22:18-19).
Ini adalah pada hakikatnya ayat-ayat terakhir Al-Kitab. Sebab munasabah yang hanya boleh membawa kepada perubahan-perubahan ialah bahawa Al-Qur’an berbeza dari “Al-Kitab”. Akibatnya, terdapat dua kemungkinan: sama ada orang Kristian yang enggan menerima Al-Qur’an cuba mengubah semua persamaan antara Al-Kitab dan Al-Qur’an; ataupun orang Islam setelah melihat bahawa “Al-Kitab” mempunyai perbezaan yang ternyata dari Al-Qur’an, tangkas mendakwa bahawa Al-Kitab telahpun mengalami perubahan. Anggapan yang pertama adalah bertentangan dengan semua bukti-bukti dan logik.
SOALAN: Mengapakah orang Muslim tetap menuduh bahawa Al-Kitab telah mengalami perubahan? Bilakah Al-Kitab itu boleh didakwakan tercemar? Mengapakah Al-Qur’an tidak menyatakan dengan jelas bahawa Al-Kitab itu telah tercemar?
Terdapat perbezaan-perbezaan di antara Al-Kitab dan Al-Qur’an
Al-Qur’an menyatakan bahawa kedua-dua Kitab Taurat dan Injil telah diturunkan. Tetapi secara kontras, ia juga mendakwa bahawa Isa tidak disalibkan:
“Dan juga da’waan mereka dengan mengatakan: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al-Masih ‘Isa Ibni Maryam, Rasul Allah”. Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak memalangnya (dikayu palang – salib), tetapi diserupakan bagi mereka…” (Surah 4:157)
Hal Penyaliban itu menerima perhatian yang terbanyak dalam Kitab Injil dan nyata dinubuatkan(diramalkan) dalam Perjanjian Lama kira-kira 700-1000 tahun sebelum ia berlaku. Lihat “Orang Kristian menjawab Orang Islam”, mukasurat 48 ff., 97 ff.

Dalam Surah 19:35, kita diberitahu bahawa
“tiadalah layak bagi Allah mempunyai anak”
dan berdekatan penghujung Al-Qur’an (Surah 112:3) dikatakan:
“Ia tiada beranak, dan Ia pula tidak diperanakkan”,
yang juga sebahagian daripada Rak’at.
Sekali lagi, ini bertentangan dengan Al-Kitab. Ayat-ayat “tiadalah layak bagi Allah mempunyai anak” (Surah 19:35 dan 92) mencadangkan ia perbuatan yang fizikal iaitu suatu yang kasar dan tidak bersopan pada orang Kristian mahupun orang Muslim.
Isa dilahirkan oleh seorang anak dara. Anak dara itu bertanya:
“Maryam bertanya: “Bagaimanakah aku akan beroleh seorang anak lelaki, padahal aku tidak pernah disentuh oleh seorang lelakipun, dan aku pula bukan perempuan jahat?” Ia menjawab: “Demikianlah keadaannya – tak usahlah dihairankan; Tuhanmu berfirman: ‘Hal itu mudah bagiKu; dan Kami hendak menjadikan pemberian anak itu sebagai satu tanda untuk umat manusia dan sebagai satu rahmat dari Kami.'” (Surah 19:20-21).
Ini, sepertimana dalam Al-Kitab, tidak menunjuk kepada suatu perbuatan beranak. Seluruh konsep “begotten son” itu adalah berdasarkan kepada suatu salah faham. Dalam bahasa Greek yang asal, kata “monogenes”lah yang digunakan, yang bermaksud “anak yang tunggal”. Bahawa Tuhan yang memulakan langkah kebapaan adalah jelas walaupun dalam Al-Qur’an. Sebagaimana perbuatan beranak itu telah disalahfahamkan, begitu juga dengan “Triniti”, yang menurut Al-Qur’an difahamkan sebagai terdiri daripada Isa (Yesus) dan Maryam di samping Tuhan, Tuhan sebagai ketiga dari mereka bertiga (Surah 5:116). Ini tidak dalam apa-apa cara pun selaras dengan teks-teks Al-Kitab juga. Orang Kristian percaya dalam apa yang diajar di dalam Al-Kitab Di dalam kedua-dua Perjanjian Lama (SM) dan Perjanjian Baru kami tahu mengenai SATU Tuhan sahaja. (“Christians Answer Muslims, ms. 92ff.). Adalah satu tragedi bahawa kebanyakan orang Muslim fikir bahawa orang Kristian menyembah tiga tuhan. Perkara itu teramat palsu. Hanya di dalam satu kumpulan Kristian sahajalah Maryam dianggap suci sebagai “Ibu Tuhan”, dan ini tidak terkandung dalam Al-Kitab.
Tambahan pula, terdapat banyak lagi perbezaaan di antara Al-Qur’an dan Al-Kitab yang lebih berunsur sejarah daripada doktrin.
Nuh, terlepas daripada ditenggelami air bah, tetapi anaknya mati tenggelam (Surah 11:42-46) mengikut kisah Al-Qur’an, tetapi dia (Nuh) terlepas bersama-sama isterinya, ketiga-tiga anak lelakinya dan isteri-isteri mereka (Kejadian 6:7,18) di dalam Al-Kitab.
Malaikat yang mengkhabarkan berita kelahiran Yohanes Pembaptis (Yahya) kepada ayahnya, mengatakan:
“Kami memberikan khabar dengan mengurniakan seorang anak lelaki, yang bernama Yahya: Kami tidak perhap menjadikan seorangpun yang senama itu sebelum dia” (Surah 19:7 – ditransliterasikan dari penterjemahan Bahasa Inggeris George Sale).
atau
“Tidak ada nama yang Kami beri kepadanya waktu sebelum waktu ini” (menurut penterjemahan A.J. Arberry – ditransliterasikan ke dalam bahasa Melayu)
atau
“nama itu Kami beri kepada tidak sesiapapun sebelum dia” (penterjemahan Palmer dan Rodwell – ditransliterasikan ke dalam bahasa Melayu).
Ini tidak tepat. Yohanan, bentuk bahasa Ibrani (bahasa Yahudi kuno) untuk Yohanes (Pemberian Jahveh) ialah nama yang digunakan secara umum yang disebutkan di dalam Perjanjian Lama. Oleh itu, Yusuf Ali di dalam terjemahannya mengtransliterasikan pernyataan ini sebagai “Kepada tidak ada sesiapapun dengan nama itu, telah Kami kurniakan perbezaan istimewa sebelum ini” Penjelasan beliau:
“…kerana kami membaca mengenai seorang Yohanan…. di dalam II Raja-raja 25:23.”
Adakah seorang “penterjemah” dibenarkan mengubah teks seperti ini untuk membetulkan satu kesilapan?
Ibrahim ialah anak kepada Aazar di dalam Surah 6:74 dan anak kepada Terah di dalam Kejadian 11:27. Siapakah yang mahu menukarkan nama watak dari sejarah yang lebih awal mengikut sembarangan? Apakah matlamat yang boleh dicapai melalui perbuatan ini? Tidak ada satu pun. Hanya kesilapan sajalah yang bertanggungjawab. Adakah Aazar melambangkan Eliezer? Dia disebutkan di dalam Kejadian 15:2 sebagai hamba Ibrahim.
Percanggahan yang lebih ketara berlaku di dalam cerita mengenai Musa. Kami diberitahu dengan benar bahawa ‘Imran (Amram mengikut keterangan Al-Kitab) adalah bapa kepada Musa, Harun dan Maryam (secara implikasi di dalam Surah 19:28, 66:12, 20:25-30).
Tetapi, Maryam ini sebagai ibu kepada Isa (yang sebenarnya dilahirkan 1500 tahun kemudian!) adalah amat mustahil.
Penjelasan yang diberikan oleh Yusuf Ali bahawa dia dan sepupunya Elisabet telah dipanggil sebagai “Kakak-kakak Harun”, kerana mereka berdua (di dalam kes Maryam, “telah diandaikan”: komentar: 375) dari keluarga alim ulama, adalah kurang jelas. Ungkapan itu, dicadangkan, telah diperolehi dari Lukas 1:5 yang mana Elisabet, ibu kepada Yohanes Pembaptis (Yahya), dari keturunan keluarga alim ulama, telah digelar sebagai “dari anak-anak perempuan Harun” Apa yang Yusuf Ali tidak menerangkan ialah bapa kepada Harun dan Maryam, ibu kepada Isa, rupa-rupanya ‘Imran menurut Al-Qur’an. Ini, tanpa sebarang ragu-ragu lagi, menunjukkan kesilapan manusia yang sukar dipandangkan sebagai kesilapan penyalinan. Kesalahan ini berdasarkan kurangnya pengetahuan tentang, atau informasi mengenai, Al-Kitab.
Bahawa Musa telah diambil sebagai anak angkat oleh isteri Fir’aun (Surah 28:9) dikontradiksikan oleh Keluaran 2:10, di mana dia telah diambil dijadikan anak angkat oleh anak perempuan Fir’aun (kalau tidak, dia mungkin juga akan diambil menjadi anak angkat oleh Fir’aun sendiri)
Isteri Musa – kami fahami dari konteks (di dalam Surah 28:22-28) , yang ini mestilah Zipora anak perempuan Yitro – telah diberi kepada Musa sebagai penggantian untuk upah 8 – 10 tahun pekerjaan. Al-Kitab tidak melaporkan untuk ini (Keluaran 2:16-22). Akan tetapi, kami diingatkan dengan kuat Kejadian 29:18 di mana Yakub menggadaikan 7 tahun bekerja dengan Laban sebagai penggantian untuk tangan Rahel. Ini berlaku kira-kira 220 tahun belum datangnya masa Musa. Sekali lagi kami ingin bertanya apakah mungkin sebab-sebab seseorang lelaki perlu ada untuk menukar ayat-ayat Al-Kitab di dalam kisah-kisah bersejarah seperti ini? Ataupun mungkinkah Muhammad telah keliru dengan cerita-cerita yang didengarnya?
Perkara yang sama juga boleh diaplikasikan kepada pernyataan bahawa Haamaan ialah hamba kepada Fir’aun. Menurut Al-Qur’an, dia telah diarah oleh Fir’aun untuk menyalakan relau untuk membakar batu-bata dari tanah liat untuk “binalah untukku istana yang tinggi” (ditransliterasi dari Surah 28:39 Yusuf Ali); atau “menara yang tinggi, supaya aku naik kepada Tuhan Musa” (ditransliterasi dari G. Sales); atau “sebuah menara, supaya aku boleh mencapai jalan-jalan di syurga-syurga dan naik melihat Tuhan Musa” (ditransliterasi dari Palmer dan Rodwell”; atau “binalah untukku satu menara, supaya aku naik melihat Tuhan Musa” (ditransliterasi dari Arberry)
Kami memang mengingati kembali pembinaan menara Babel di dalam Al-Kitab. Tetapi kejadian ini di dalam Kejadian 11 berlaku 750 tahun sebelum masa Fir’aun di Keluaran, dan Haamaan (Buku Ester) tinggal 1100 tahun selepas Fir’aun. Yusuf Ali mencadangkan (komentar: 3331) bahawa ini merujuk kepada Haamaan yang lain, tetapi tidak ada orang lain yang memiliki nama yang sama di dalam Al-Kitab. Kami mendapati ianya ganjil bahawa Yusuf Ali dalam kontras berbanding dengan semua penterjemah-penterjemah yang lain, bercakap mengenai istana yang tinggi, lain daripada menara. Adakah dia ingin menggelapkan persamaan-persamaan itu yang jelas, yang memalukan oleh kerana persamaan-persamaan itu tidak secocok dengan sejarah?
Di dalam Al-Kitab (Hakim-hakim 7) kami membaca bagaimana Tuhan membuat Gideon memilih tentera kecilnya yang seramai 300 orang dari 32,000 orang askar, untuk satu tugas yang istimewa. Di dalam Surah 2:249 kami membaca mengenai satu peristiwa yang agak serupa, tetapi dalam masa ini, di bawah Raja Talut (Saul). Yusuf Ali dalam komentarnya menyedari akan hal ini, dan menyatakan “sebagaimana Gideon sebelum Saul” (komentar 284). Perbuatan sebegini oleh Talut tidak boleh dijumpai di dalam Al-Kitab dan kami menganggap ini sebagai satu lagi kesilapan.
Orang Muslim mempercayai bahawa Ismail ialah anak yang telah dipersembahkan oleh Ibrahim atas mazbah. Al-Kitab menyatakan bahawa anak itu ialah Ishak (Ishaq). Kejadian inilah tumpuan utama seluruh konsep korban, di mana terdapat suatu perbezaan luas di antara kedua-dua Buku (Al-Kitab dan Al-Qur’an) yang boleh dikesan.
Eid ul-Adha adalah berdasarkan Surah 22:34-37 di mana telah dikatakan, inter alia:
“Dan bagi tiap-tiap umat, Kami syari’atkan ibadat menyembelih korban supaya merekan bersyukur akan pengurniaanNya kepada mereka; binatang-binatang yang disembelih itu… Dan Kami jadikan unta sebahagian dari syi’ar ugama Allah untuk kamu; pada menyembelih unta yang tersebut ada kebaikan bagi kamu… Daging dan darah binatang korban atau hadiah itu tidak sekali-kali akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepadaNya ialah amal yang ikhlas yang berdasarkan taqwa dari kamu.”
Pembaca beragama Kristian memerhati dengan serta-merta di atas, kontradiksi dengan mesej Al-Kitab.
“Apabila Aku nampak darah itu, Aku akan melalui kamu.” (Keluaran 12:13)
Ini adalah wahyu-wahyu Tuhan kepada Musa dan orang Yahudi setelah memberitahu mereka bahawa dengan menyapukan darah binatang korban pada ambang pintu rumah dan batang-batang tiang pintu rumah mereka, keluarga mereka akan terlepas daripada hukuman Tuhan yang akan melanda Mesir.
“Nyawa tiap-tiap makhluk terkandung di dalam darahnya. Itulah sebabnya TUHAN memberi perintah supaya semua darah dituangkan ke atas mazbah untuk menghapuskan dosa umat. Darah, iaitu nyawa, menghapuskan dosa.” (Imamat 17:11)
Pernyataan ini amat ringkas, dan mewakili perkara yang paling asas di dalam Taurat yang diberi kepada Musa. Walaupun ini pada akhirnya menunjuk kepada pengorbanan Isa (Yesus), di mana dia mengiktirafkan semua pengorbanan-pengorbanan yang dipersembahkan oleh umat-umat yang di bawah Perjanjian Lama, namun penuntutan Tuhan masih berdiri:
“Dosa hanya dapat diampunkan jika ada penumpahan darah” (Ibrani 9:22)
Ianya adalah satu anggapan yang salah mengenai kekudusan Tuhan dan juga tabiat dosa manusia untuk menganggap bahawa perbuatan-perbuatan baik kita akan dapat menampas untuk kejahatan di dalam kehidupan kita.
Asal-usul Eid ul-Adha boleh dikesan kembali kepada tahun di mana, beberapa bulan selepas Hijrah, Muhammad memerhati orang Yahudi merayai “Hari Pengampunan Dosa” (Imamat 16) dan dia melihat bahagian yang dimainkan oleh upacara korban antara orang (Ahli) Kitab, iaitu orang Yahudi. Satu Tradisi merekodkan bahawa Muhammad menyoal mereka kenapa mereka mengamalkan puasa itu. Dia diberitahu bahawa itu adalah satu peringatan kepada penyelamatan Isra’il di bawah Musa dari tangan orang Mesir.
“Kami mempunyai hak yang lebih di dalam Musa daripada mereka,” kata Muhammad dan berpuasalah dia dengan orang Yahudi, sambil mengarah pengikut-pengikutnya untuk berlaku sedemikian juga.
Tahun selepas itu, apa yang pada mulanya suasana muhibah di antara orang Muslim and orang Yahudi, telahpun merosot, dan bersama-sama itu Kiblat telah diubah dari Jerusalem ke Mekah. Muhammad dan pengikut-pengikutnya tidak melibatkan diri di dalam “Yom Kippur” (Hari Pengampunan Dosa) yang dirayakan. Akan tetapi, dia telah memulakan Eid ul-Adha. Dia mengorbankan dua ekor kambing, satu untuk diri dan keluarganya and satu untuk pengikut-pengikutnya, (lihat Imamat 16), mengikuti tuntutan ajaran dalam Al-Kitab. Orang Arab yang menyembah patung-patung telah mengamalkan Hajj tahunan ke Mekah pada masa yang sama dalam tahun itu. Pengorbanan binatang-binatang juga merupakan sebahagian daripada upacara mereka, oleh itu institusi Eid ul-Adha mungkin boleh diperhatikan sebagai isyarat persahabatan pada masa yang berpatutan terhadap orang Arab Mekah.
Walaupun tidak ada rujukan di dalam Al-Qur’an mengenai hakikat ini, adalah diterima secara umum oleh orang Muslim bahawa pesta ini telah diinstitusi untuk merayakan tindakan Ibrahim mempersembahkan anaknya sebagai korban di Bukit Mina berhampiran Mekah.
Alasan untuk anggapan di atas adalah seperti berikut: sekiranya “anak tunggal” Ibrahim (Kejadian 22:2) telah dipersembahkan, Ishaq tidak mungkin telah dilahirkan pada tahap itu, kerana Ismail tidak mungkin boleh menjadi anak yang tunggal lagi. Tetapi Kejadian 22:2 adalah jelas mengenai perkara ini. Ia sebenarnya menyatakan nama Ishaq. Di dalam Surah 37:100-111 kisah korban anak Ibrahim telah direkodkan tanpa memberi nama anak itu: “Lalu Kami berikan kepadanya berita yang menggembirakan, bahawa ia akan beroleh seorang anak yang penyabar.” Walaupun Al-Qur’an agak menyimpang dari kisah Al-Kitab, peristiwa mengenai kejadian korban itu telah dilaporkan. Sebagai petikan yang selari, kami harus menyebutkan Surah 11:71, di mana, walau demikian, susunan waktu peristiwa itu telahpun agak dicampuradukkan.
Rujukan di dalam Surah 37 berpuncak dengan kata-kata:
“Dan Kami tebuskan anaknya itu dengan seekor binatang sembelihan yang besar.” (Penekanan oleh saya)
Konsep Islam bahawa Ismail berada di atas mazbah hanya boleh disokong oleh Tradisi (Komentar Yusuf Ali, nota 4096, 4101) (“Dictionary of Islam”, ms 219). Dengan mengambil kira semua yang telah dibincangkan, kami amat teringin untuk menyimpulkan bahawa pandangan Islam itu dimotivasikan oleh keperluan untuk menyempurnakan suatu matlamat yang tertentu.
Berkenaan maksud korban itu (Korban = “menghampiri”, kepada siapa? Bagaimana? Mengapa?), orang Muslim menafikan apa-apa implikasi dari konsep-konsep Al-Kitab walau apapun; kami memegang bahawa ini adalah tidak sah, kerana kami sedang memperkatakan mengenai isi-isi dan kisah dari Al-Kitab. Kepada orang Muslim, Korban itu hanyalah upacara mengingati untuk membuat seseorang itu memikirkan mengenai Ismail. Tetapi dalam Al-Qur’an juga, walaupun dinafikan di dalam petikan-petikan lain (Surah 22:37) isunya jelas: “Ditebus melalui Korban!” Dibebaskan dari kematian oleh orang lain yang melangkah masuk, satu pengorbanan yang penting dan mulia untuk menebus Ishaq (atau Ismail, sekiranya anda mahu).
Di sinilah asas Al-Kitab. Di sinilah penunjuk kepada pengorbanan Yesus Kristus (Isa). Dia telah menjadi pengorbanan yang penting dan mulia untuk mati di tempat kita. Hari ini Eid ul-Adha ialah pesta untuk bergembira. Tetapi, pengorbanan itu tidak ditafsirkan sebagai satu penebusan! Orang Muslim mendakwa bahawa Ibrahim mengambil Hagar dan Ismail, sebagai bayi yang belum mencerai-susu, ke Paran (dipercayai oleh orang Muslim sebagai berdekatan dengan Mekah). Ini bercanggah dengan keterangan Kejadian dari sudut-sudut yang berikut:
a) Hagar dan Ismail telah diusir, tanpa diiringi Ibrahim, apabila
b) Ishaq telahpun dilahirkan, iaitu Ismail berumur sekurang-kurangnya 14 tahun (dan belum dicerai susu!).
c) Paran tidak terletak berhampiran Mekah tetapi berada di selatan Isra’il di Semenanjung Sinai.
We memerhati bahawa di dalam Keluaran 22:2 Ishaq digelar sebagai anak Ibrahim yang tunggal. Ini adalah salah dari segi biologi tetapi betul dari segi undang-undang, kerana ia dengan jelas merujuk kepada:
i) pembawa perjanjian (Keluaran 21:12); dan
ii) Perkahwinan Ibrahim kepada Sara (Hagar adalah gundik Ibrahim)
Seorang Muslim mungkin membantah dan mengatakan bahawa teks Al-Qur’an itu adalah “nazil”, atau telahpun datang sebagai wahyu dari syurga (diturunkan): Tuhan mengetahui mengenai perkara itu dan oleh itu ianya tidak perlu dilaporkan di dalam Al-Kitab untuk diketahui olehNya. Memang Tuhan itu tahu segala-galanya, yang lepas, sekarang mahupun pada masa hadapan. Dia menunjukkan pelbagai peristiwa masa hadapan dengan lengkap melalui nabi-nabi di dalam Al-Kitab untuk menampakkan karanganNya, dan setiap pembaca mempunyai kemampuan memeriksa dan menguji sekiranya fakta-fakta di dalamnya menunjukkan kesan-kesan perbuatanNya. Tetapi dengan menghakimi secara tidak emosi, hanya berpandukan bukti, orang Kristian gagal melihat sebarang kesan-kesan perbuatan Tuhan di dalam Al-Qur’an. (lihat ms. 39ff)

SOALAN: Bagaimana seseorang itu, di dalam penjelasan teks-teks pembukaan bab ini, menerangkan semua perbezaan-perbezaan ini?

KONTRADIKSI DI DALAM AL-QUR’AN

“Patutkah mereka, tidak mahu memikirkan isi Al-Qur’an? Kalaulah Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, nescaya mereka akan dapati perselisihan yang banyak di dalamnya” (Surah 4:82)
Ayat ini dibesarkan lagi oleh teks-teks yang telahpun disebut:
“…tidak ada perubahan pada janji-janji Allah” (S. Yunus 10:64)
“…sememangnyalah tiada sesiapa pun yang dapat mengubah Kalimah-kalimah Allah…” (S. An’aam 6:34)
Kami orang Kristian percaya dalam ini juga. Biarkanlah kami mengandai, buat ketika ini, bahawa tidak ada perselisihan antara mesej Al-Kitab dan Al-Qur’an, yang sepertimana yang kita telah lihat, bukan kesnya, dan mempertimbangkan Al-Qur’an dengan sendirinya.
Masalah mansukh (pembatalan dan penggantian ayat-ayat Al-Qur’an)
“Dan apabila Kami tukarkan satu ayat untuk menggantikan ayat yang lain, dan Allah memang mengetahui akan apa yang Ia turunkan, – berkatalah mereka: “Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pendusta”; bahkan kebanyakan mereka tidak mengetahui hakikat yang sebenarnya.”
“Apa sahaja ayat keterangan yang Kami mansukhkan, atau yang Kami tinggalkan, Kami datangkan ganti yang lebih baik daripadanya, atau yang sebanding dengannya. Tidakkan engkau mengetahui bahawasanya Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu? (Surah-surah 16:101 dan 2:106,108).
Kami ingin mengetahui bagaimana wahyu dari Tuhan boleh diperbaiki. Kami mungkin boleh mengharapkan bahawa ianya adalah sempurna dan benar dari mula-mula lagi. Yusuf Ali cuba untuk menerangkan:
“…ini bermaksud bahawa mesej Tuhan dari zaman ke zaman adalah senantiasa sama, tetapi bentuknya mungkin berbeza mengikut keperluan dan keadaan-keadaan yang mendesak pada masa itu. Beberapa pengulas-pengulas juga menyangkutkan ini kepada Ayat (wahyu) Al-Qur’an. Tidak ada apa-apa yang merosakkan dalam hal ini sekiranya kami percaya dalam wahyu secara progresif..

Di dalam Surah 3:7 kami diberitahu dengan nyata mengenai Al-Qur’an, bahawa beberapa dari ayat-ayatnya adalah asas dan dasar, dan yang lain adalah bersifat alegori, dan adalah nakal untuk menganggap ayat-ayat yang bersifat alegori dan mengikut mereka (dengan literal).” (komentar 107)”
Ini boleh diterima dengan penuh. Tuhan telah menurunkan wahyu secara progresif, wahyu itu diratakan terhadap fahaman dan kebudayaan orang yang mana ia diberikan dahulu. Semua orang akan setuju bahawa satu alegori tidak seharusnya diambil secara literal. Tetapi bagaimana pula mengenai hukum “mansukh” (=penggantian ayat; sila perhatikan Surah 2:106 tidak bercakap mengenai intelek, kebudayaan atau wahyu secara progresif dengan merujuk kepada Kitab-kitab yang diturunkan sebelum Muhammad, tetapi hanya kepada Ayat-ayat Al-Qur’an sahaja!) dan ‘nasikh’ (=ayat-ayat yang mengambil tempat ayat-ayat yang dimansukhkan)?.
Kita mesti mengakui satu prinsip yang penting: Sekiranya kita ingin mengetahui apa sesuatu petikan benar-benar bermaksud kita harus melakukan penafsiran (exegesis) yang sesuai. Kita harus mendirikan apa sebenarnya teks yang dipersoalkan itu bertujuan untuk mengatakan kepada pendengar-pendengarnya yang asal. Bagaimanakah mereka memahaminya? Hanya setelah melakukan perkara ini barulah kita boleh menafsirkan sesuatu teks dalam situasi hari ini tanpa hal memutarbelitkannya. Terdapat pelbagai cara untuk mendirikan maksud asalnya, tetapi seorang itu harus juga melihat kepada komentar-komentar yang amat tua dan melihat bagaimana mereka memahami dan menafsirkan teks itu.
“Tafsir-i-Azizi” menjelaskan tiga jenis pemansukhan (=pembatalan):
i) di mana satu ayat telah diambil keluar dari Al-Qur’an dan sesuatu lagi diberikan mengisi tempatnya;
ii) di mana perintah (arahan) telahpun dimansukhkan dan huruf-huruf ayat sahajalah yang tertinggal;
iii) di mana kedua-dua ayat dan perintahnya telah diambil keluar dari teks
Jalalu’d-Din mengatakan bahawa jumlah ayat-ayat yang dimansukhkan telah pun banyak dijangka berada dalam lingkungan dari 5 hingga ke 500 (“Dictionary of Islam”, mukasurat 520)
Di dalam ‘Itqan’nya, dia menyediakan satu senarai yang mengandungi 20 ayat-ayat, yang semuanya diakui oleh semua pengulas-pengulas sebagai telah dimansukhkan (“Dictionary of Islam”, mukasurat 520).
Hanya beberapa sahaja akan diperkatakan di sini:
Kiblat (arah menunaikan solat) telah ditukar dari Baitu’l Maqdis (Yerusalem) ke Mekah (Surah 2:142-144)
Pembahagian harta pesaka yang ditinggalkan oleh ibu bapa atau saudara-mara yang lain menurut Surah 4:7 haruslah sama rata (satu bahagian dan satu bahagian yang harus ditentukan). Ini telah dimansukh dan digantikan oleh ayat 11, di mana telah diarahkan bahawa laki-laki mesti mendapat 2 kali ganda bahagian wanita.
Solat pada waktu malam yang ditunaikan dengan membaca Al-Qur’an haruslah lebih kurang separuh dari waktu malam (Surah 73:2)
Rawatan untuk penzina-penzina adalah kurungan sehingga ajal matinya (Surah 4:15) telah ditukar kepada seratus kali sebat (Surah 24:2). Ini meskipun kelembutan yang dikenakan ke atas homoseksual (Surah 4:16) setelah bertaubat.
Pembalasan dalam kes-kes jenayah, terutamanya membunuh, adalah hanya terbatas kepada mereka yang setaraf (hamba dengan hamba, orang merdeka dengan orang merdeka dll). (Surah 2:178). Ini adalah dalam percanggahan dengan Surah 5:48 dan Surah 17:33 di mana pembalasan diizinkan terhadap si pembunuh sahaja.
Jihad atau Peperangan Jihad telah dilarang dalam bulan-bulan yang dihormati itu (Surah 9:5) tetapi diizinkan, mahupun digalakkan dalam ayat 36 yang menggantikan ayat 5.
“Surah 2:106 berlaku serta-merta sebelum satu siri perubahan yang menyeluruh, ataupun modifikasi-modifikasi, yang diperkenalkan oleh Muhammad dalam kedua-dua lingkungan upacara-upacara agama dan Hukum-hukum. Oleh yang demikian, ayat itu mendahului satu perubahan dalam Kiblat (ayat-ayat 115, 177, 124-151); dalam ibadat menunaikan Haji (ayat 158); dalam peraturan-peraturan mengenai pemakanan (ayat-ayat 168-174); dalam peraturan mengenai pembalasan (ayat-ayat 178-179); dalam hal pewarisan (ayat-ayat 180-182); dalam hal berpuasa (ayat-ayat 182-187); dan sekali lagi dalam hal menunaikan haji (ayat-ayat 191-203).
Dalam cara yang sama, Surah 16:101 diikuti oleh bayangan-bayangan kepada modifikasi-modifikasidi dalam peraturan-peraturan pemakanan (ayat-ayat 114-119), dan di peraturan-peraturan Hari Sabtu (Hari kelepasan yang wajib dihormati oleh orang Yahudi) (ayat 124) (“The collection of the Quran” oleh John Burton)
Berdasarkan ini, kami memperhatikan bahawa berpuasa itu wajib tetapi “sesiapa di antara kamu yang sakit, atau demam musafir, kemudian wajiblah ia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain; dan wajib atas orang-orang yang tidak terdaya berpuasa membayar fidyah iaitu memberi makan orang miskin. Maka sesiapa yang dengan sukarela memberikan lebih dari yang ditentukan itu, maka itu adalah suatu kebaikan baginya; dan berpuasa itu lebih baik bagi kamu, kalau kamu mengetahui.” (Surah 2:184)
“Di sini seseorang itu sukar terlepas dari kesimpulan bahawa ayat yang pertama (iaitu 184) membenarkan orang yang kaya membeli dirinya keluar dari berpuasa.” (“Islam” oleh A. Guillaume). Ayat yangkemudian dikatakan memansukhkan ayat yang lebih awal. Ia tidak membenarkan sebarang pampasan untuk puasa.”
Dalam ayat 180 dari Surah yang sama, “Kamu diwajibkan apabila seseorang dari kamu hampir mati, jika ia ada meninggalkan harta, membuat wasiat untuk ibu bapa dan kaum kerabat…”. Ini dikatakan telah digantikan oleh Surah 4:11, yang menurutnya, bahagian harta pesaka yang jatuh ke tangan kaum lelaki adalah dua kali ganda bahagian yang diwarisi oleh kaum perempuan.
Ayat yang banyak dibincangkan iaitu “ayat-ayat pedang”: “…bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana sahaja kamu menemuinya, dan tawanlah mereka, dan juga keponglah mereka, serta tunggulah mereka di tiap-tiap tempat mengintipnya…” (Surah 9:5) dan “…apabila kamu berjuang menentang orang-orang kafir maka pancunglah lehernya… ” (Surah 47:4) adalah “dikatakan telah membatalkan tidak kurang daripada 124 ayat-ayat yang memerintahkan toleransi dan kesabaran.” (A. Guillaume)
Kepada kami adalah amat memeranjatkan untuk mendapati ayat-ayat mansukh dan nasikh sering berdekatan antara satu sama lain. Kami membuat kesimpulan bahawa semua ini adalah kes-kes interpolasi.
Sepertimana yang dikatakan awal-awal lagi, kami memang percaya kepada konsep wahyu secara progresif. Perjanjian Lama dari Taurat, yang diberikan kepada Musa, telah digantikan oleh Perjanjian Baru yang bertemakan rahmat, yang diperkenalkan oleh Isa. Akan tetapi perkembangan-perkembangan ini mengambil masa yang agak lama (1500 tahun) dengan banyak ramalan-ramalan dan amaran-amaran oleh nabi-nabi di antara mereka, supaya tidak ada tindakan yang sembarangan boleh diandaikan pada pihak Tuhan. Berdasarkan penjelasan ini, kami tidak dapat menerima bahawa dalam jangkamasa 20 tahun sebarang perubahan atau pembetulan adalah amat perlu. Tentunya ini mencadangkan bahawa Tuhan itu bukan Maha Mengetahui ataupun perakam itu telah membuat pembetulan.
Terdapat ayat-ayat lain yang menambahkan kepada kekeliruan ini:
“Dan sesungguhnya jika Kami kehendaki, tentulah Kami akan hapuskan apa yang Kami telah wahikan kepadamu!” (Surah 17:86) “Kami sentiasa menjadikan engkau dapat membaca (iaitu Al-Qur’an) sehingga engkau tidak lupa, kecuali apa yang dikehendaki Allah engkau lupakan.” (Surah 87:6-7)
Mengapakah sesuatu yang bersifat wahyu yang abadi itu dilupakan? Untuk “ganti yang lebih baik daripadanya”? Kami mengakui bahawa orang yang diinspirasikan kadang-kadang boleh silap, tetapi buku yang diinspirasikan oleh Allah (nazil) itu tidak akan sekali-sekali!
Zarkasi menjelaskan konsep di atas dengan lebih mendalam. Dia mengatakan (jilid I m.s. 235):
” ‘Naskh’ (sic) penyusunan kata-kata dan pembacaan itu berlaku akibat perbuatan Allah yang menyebabkan mereka untuk melupakannya. Dia menarik baliknya dari peringatan mereka, sambil memerintahkan mereka untuk mengabaikan deklamasi dan pencatatannya di dalam mushaf. Dengan perkembangan masa, ia akan hilang seperti buku-buku yang diwahyu oleh Tuhan yang disebutNya dalam al-Qur’an, tetapi tidak ada apa yang diketahui hari ini. Ini telah berlaku sama ada semasa kehidupan Nabi supaya, apabila dia mangkat, perkara yang dilupakan itu tidak lagi dideklamasikan sebagai sebahagian dari Al-Qur’an; ataupun it mungkin telah berlaku selepas peninggalan Nabi. Ia mungkin masih terdapat dalam bentuk penulisan, tetapi Tuhan akan menyebabkan mereka untuk melupakannya. Dia kemudian akan mengambil pergi ia dari pengingatan mereka. Tetapi, naskh dari mana-mana bahagian wahyu setelah Nabi meninggal dunia adalah tidak mungkin.” (“the Collection of the Qur’an” oleh John Burton m.s. 97)
Kami mencadangkan bahawa Allah telah mungkin boleh menahan dari menyebabkan kita kekeliruan, kesangsian and penjelasan-penjelasan, sekiranya Dia telah memberikan teks yang lebih baik sejak dari mula-mula lagi.
“Terdapat satu siri Hadith, dirangka khususnya untuk memberi tanggapan bahawa Muhammad telah lupa akan sebahagian dari wahyu-wahyu. Laporan-laporan itu adalah spesifik dan terperinci sekali untuk mengenalpasti penyusunan kata-kata ayat-ayat yang disoalkan. Anas dilaporkan di dalam kedua-dua Sahih (al-Bukhari dan Muslim) sebagai mengumumkan: Telah diwahyukan mengenai mereka yang terkorban di Bi’r Mau’na – satu ayat Al-Qur’an yang kami telah lafazkan sehingga ia ditarik balik: “Beritahulah puak kami bagi pihak kami bahawa kami telah mengemui Tuhan kami. Dia telah puas hati dengan kami dan telah memuaskan kehendak kami.” (“al-Itqan oleh Jalan al Din).
Oleh itu, ‘Abdullah b. al Zubair telah bertanya kepada Uthman apakah yang telah mempengaruhinya untuk memasukkan Surah 2:240 ke dalam ‘mushaf’ (dokumen atau kitab), mahupun dia tahu bahawa ia telah dimansukhkan oleh Surah 2:234. ‘Kerana’, dia menjawab ‘Uthman, ‘Saya ketahui ia sebagai sebahagian daripada teks Al-Qur’an.’ ‘(ibid.). (“The Collection of the Qur’an” oleh John Burton).
Satu lagi masalah timbul daripada hakikat bahawa tidak ada sebarang kepastian yang manakah ayat-ayat mansukh dan yang manakah nasikh, oleh kerana penyusunan penulisan Al-Qur’an adalah tidak menurut peredaran masa tetapi mengikut kepanjangan Surah-surah. Akan tetapi, Surah juga tidak semestinya diberi dalam satu bentuk yang lengkap. Apa yang berlaku ialah sesuatu bahagian Surah akan diberikan, dan teks yang diberikan terkemudian seterusnya diarahkan oleh Muhammad untuk ditambahkan kepada Surah yang lain, dan kemudian sekali lagi penambahan dibuat kepada Surah yang pertama, dll. Hadis juga tidak memberi maklumat-maklumat yang muktamad mengenai isu penyusunan secara kronologi, oleh itu secara tegas, boleh dikatakan tidak ada sebarang metod untuk mengenalpasti yang manakah teks-teks yang bercanggah itu mansukh, dan yang manakah nasikh.
Walau apapun kesnya, kami orang Kristian memerhati dalam subjek ini, hanya satu helah teologi untuk “menerangkan” kontradiksi-kontradiksi. Petikan di bawah:
“tidak ada perubahan pada janji-janji Allah” dan “sememangnyalah tiada sesiapa pun yang dapat mengubah Kalimah-kalimah Allah. dan demi sesungguhnya; telah datang kepadamu sebahagian dari khabar berita Rasul-rasul itu.”atau “Rasul-rasul yang lain juga berkata demikian” (Surah 10:64 dan 6:34).
telah dikontradiksi oleh semua orang Muslim yang mengatakan bahawa Al-Kitab yang diakui sebagai buku yang diwahyukan, telah diubah dan ditukar.
Untuk menekankan lagi titik perbincangan kami ini, cuma lihatlah pada dua petikan Al-Quran yang masih belum diselesaikan percanggahannya dari segi hukum mansukh.
Di dalam Surah 41:9-12 kami membaca bahawa bumi ini dicipta dalam tempoh 8 hari, dalam Surah 7:54 kami diberitahu bahawa tempoh yang diambil ialah 6 hari. Adakah ia, andai kami, terpulang kepada yang beriman itu membuat keputusan yang manakah di antara kedua-dua alternatif itu akan diterimanya?
SOALAN: Mestikah kita menganggap bahawa Allah itu tidak konsisten? Sebagai Maha Mengetahui, kontradiksi sebegini sudah tentunya tidak berasal dari Allah?
Masalah-masalah mengenai keselarasan Wahyu Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah tidak konsisten mengenai komitmen-komitmen pada bahagian Allah atas mana orang yang beriman itu boleh menghitung atau atas mana dia boleh membina kehidupannya. Janji-janji yang diberikan dikontradiksi di tempat yang lain.
“Allah telah menetapkan atas diriNya untuk memberi rahmat” (Surah 6:12)
atau
“Allah telah menetapkan atas diriNya sebagai Hukum akan memberi rahmat (Surah 6:12)
adalah ditentang dalam Surah yang sama: (ayat-ayat 35-39):
“Dan sekiranya Allah menghendaki , tentulah ia himpunkan mereka atas hidayah pertunjuk….Sesiapa yang Allah kehendaki: akan disesatkannya dan sesiapa yang Ia kehendaki: akan dijadikannya atas jalan yang betul lurus.”
Dan seperti yang akan kami perhatikan nanti(ms. 21ff.), harapan seorang Muslim bergantung kepada kata-kata melemahkan semangat yang berikut:
“Jika ia memuaskan Allah.”
Ini amat menarik, kerana di dalam Perjanjian Lama orang yang beriman itu sedar akan Hukum Punca dan Akibat. Apabila seorang yang beriman itu melanggar mana-mana Hukum-hukum Allah dia telah dipisahkan dari Allah, dan menjadi sesat dan binasa. Tetapi sekiranya dia meminta pengampunan dalam penuh penyesalan mengikut Hukum Allah yang ditentukanNya, (pengorbanan) dosa-dosanya akan diampunkan. Allah sendiri telah mengamanatkan DiriNya kepada hal ini. Ini juga dibincang dengan lebih luas di dalam Perjanjian Baru:
“Tetapi jika kita mengakui dosa kita kepada Allah, (semasa kita hidup bersatu dengan Dia. ayat 6), Dia akan menepati janjiNya dan melakukan apa yang adil. Dia akan mengampunkan dosa kita dan membersihkan kia daripada segala perbuatan yang salah.” (1 Yohanes 1:9)
Kami memerhatikan satu kemerosotan yang pasti dari standard ini di dalam Al-Qur’an.
Kami juga mendapati aneh untuk membaca:
“Demi sesungguhnya engkau akan mendapati manusia yang keras sekali permusuhannya kepada orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan demi sesungguhnya engkau akan dapati orang-orang yang dekat sekali kasih mesranya kepada orang-orang yang beriman ialah orang yang berkata ‘Bahawa kami ini ialah orang-orang Nasrani’.” (Surah 5:82)
Ini disokong sehingga satu takat oleh satu nota penjelasan di dalam “Mishkat” (IV ms. 103, nota 2380) di mana kami diberitahui bahawa “hampir dua-pertiga dari Syurga” akan dipenuhi “pengikut-pengikut Rasullullah dan pengikut-pengikut Nabi-nabi yang lain akan membentuk satu pertiga.” Yang anehnya, sebaliknya kepada ini ialah kata-kata Surah 5:51
“Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani itu sebagai teman rapat.”
Bagaimana pula dengan berada bersama-sama di Syurga? Sebab yang diberikan juga aneh:
“kerana setengah mereka menjadi teman rapat kapada setengahnya yang lain; dan sesiapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman rapatnya, maka sesungguhnya ia adalah dari golongan mereka itu. Sesungguhnya Allah tidak memberikan pertunjuk kepada kaum yang berlaku zalim”
Adalah amat sukar dikatakan bahawa Yahudi dan Kristian telah pernah menjadi “teman rapat” kecuali bahawa mereka setuju dengan kebenaran Kejadian Lama.
Adalah dikatakan mengenai Muhammad bahawa dia adalah orang pertama yang menyerah diri kepada Allah (dalam Islam) (Surah 6:14, 163, 39:12). Tetapi juga dikatakan mengenai Ibrahim, anak-anaknya dan Ya’qub bahawa mereka adalah Muslim (Surah 2:132), dan semua nabi-nabi awal yang membawa Kitab (iaitu Musa, Daud dan Isa) (Surah 28:52-53). Sekali adalah dilaporkan bahawa pengikut-pengikut (“Hawariyun”) Isa adalah orang Islam (Surah 3:52).
Semua di atas kami lihat sebagai kontradiksi. Beberapa antaranya mungkin tidak bersifat serius, jika tidak kerana dakwaan bahawa Qur’an itu “nazil” atau “diturunkan” dari langit kepada Muhammad tanpa kesan tangan manusia – kecuali perbuatan hal penulisannya.
SOALAN: Adakah terdapat ayat-ayat yang tidak bercanggah di dalam Al-Qur’an di mana seorang Muslim boleh menaruh harapannya untuk mengecapi kehidupan abadi di Syurga?