Perkembangan Sejarah Fotogrametri

Fotogrametri

I. PENDAHULUAN

Teknologi berkembang semakin pesat seiring berkembangnya zaman. Ilmu pengetahuan semakin berkembang dan banyak lahir ilmu-ilmu baru. Bertambahnya ilmu-ilmu baru tersebut membuat banyak ilmu dikotak-kotakkan atau dipisah-pisahkan. Padahal sebenarnya ilmu-ilmu tersebut bisa saja saling berhubungan.
Sebutlah saja Fotogrametri, ilmu, teknik, dan seni mengenai pemotretran udara yang dilakukan dengan kamera dan merupakan cabang dari Penginderaan Jauh. Banyak orang mengira bahwa Fotogrametri itu dikuasai oleh orang-orang di bidang teknik. Namun nyatanya, tidak sama sekali. Banyak pihak di bidang yang lain justru tergantung dan memiliki kaitan erat dengan foto udara itu sendiri.

II. SEJARAH SINGKAT FOTOGRAMETRI

Sejarah fotogrametri sebagai sains diawali jauh sebelum diketemukannya fotografi. Diantaranya Aristhoteles pada tahun 350 SM menemukan sistem pemroyeksian citra secara optis. Dr. Brook Taylor dan J.H. Lambert memperkenalkan prinsip perspektif untuk pembuatan peta. Dalam perkembangan kamera dan fotografi ada sejumlah nama lainnya yang tidak tidak disebutkan satu persatu.
Fotogrametri dengan penggunaan foto udaranya secara praktis oleh Louis Daguerre asal Paris tahun 1839 dengan proses fotografik secara langsung. Seorang Perancis lainnya yakni Colonel Aime Laussedat pada tahun 1849 menggunakan foto udara untuk pemetaan topografi yang kemudian dikenal sebagai bapak fotogrametri. Waktu itu, pemotretan dilakukan dengan wahana balon udara dan laying-layang besar.
Penemuan pesawat udara oleh Wright bersaudara pada tahun 1902 membawa fotogrametri udara menjadi modern saat itu. Untuk aplikasi pembuatan peta topografi pemotretan dengan pesawat udara dilakukan untuk pertama kalinya adalah pada tahun 1913.

III. DEFINISI FOTOGRAMETRI
Fotogrametri berasal dari kata Yunani yakni dari kata “photos” yang berarti sinar, “gramma” yang berarti sesuatu yang tergambar atau ditulis, dan “metron” yang berarti mengukur. Oleh karena itu “fotogrametri” berarti pengukuran scara grafik dengan menggunakan sinar. (Thompson, 1980 dalam Sutanto, 1983).
Dalam manual fotografi edisi lama, fotogrametri didefinisikan sebagi ilmu atau seni untuk memperoleh ukuran terpercaya dengan mengguanakan foto. Di dalam manual edisi ketiga, definisi fotogrametri dilengkapi dengan menambahkan interpretasi foto udara kedalamnya dengan fungsi yang hampir sama kedudukannya dengan penyadapan ukuran dari foto. Setelah edisi ketiga pada tahun 1996, definisi fotogrametri diperluas lagi hingga meliputi penginderaan jauh. (Sutanto, 1983). Sehingga dapat disimpilkan bahwa Fotogrametri adalah suatu seni, ilmu, dan teknik untuk memperoleh data-data tentang objek fisik dan keadaan di permukaan bumi melalui proses perekaman, pengukuran, dan penafsiran citra fotografik. Citra fotografik adalah foto udara yang diperoleh dari pemotretan udara yang menggunakan pesawat terbang atau wahana terbang lainnya.
Dalam kajian fotogrametri dimaksud di sini adalah fotogrametri dalam arti terbatas yaitu : fotogrametri sebagai dasar untuk interpretasi foto udara vertical karena foto udara vertical merupakan foto yang terbanyak digunakan dalam interpretasi foto udara. Foto udara vertical dibuat dengan sumbu kamera tegak lurus terhadap bidang referensi yaitu bidang datar yang merupakan ketinggian rata-rata daerah yang dipotret, atau daerah yang sempit dengan arah grafitasi.
Azas fotogrametri penting bagi penafsir foto, karena merupakan dasar untuk kuantifikasi kenampakan medan hasil interpretasi dalam kaitannya dengan lokasi dan bentangannya. Proses kuantisasi ini penting karena perhatian penafsir pada apa yang terdapat pada citra hampir selalu disertai dengan memperhatikan dimana kedudukan obyek yang diamati tersebut dilapangan dan bagaimana bentangan arealnya.
Prosedur analisis fotogrametri dapat berkisar dari mengukur jarak dan elevasi kurang teliti dengan menggunakan alat yang relatif kurang canggih dan memanfaatkan konsep geometrik yang sederhana hingga menghasilkan peta, hingga perolehan ukuran dan peta yang sangat tepat dengan menggunakan alat yang canggih dan dengan teknik perhitungan yang rumit. Walaupun sebagian besar terapan fotogrametri berhubungan dengan fotoudara, tetapi foto terestrial (dipotret dengan kamera dari muka bumi) juga dapat digunakan. Penggunaan teknik fotogrametri terestrial berkisar dari perekam secara tepat pemandangan kecelakaan mobil hingga pemetaan tubuh manusia dalam bidang kedokteran.
Penginderaan jauh sistem fotogrametri adalah sistem perekaman objek yang didasarkan pantulan. Semakin besar pantulan tenaga dari objek maka rona yang tergambar akan cerah, dan sebaliknya semakin kecil pantulan objek rona yang terbentuk akan gelap. Karena itu objek yang tegak lurus dengan sumbu kamera berpantulan tinggi, rona yang tergambar akan cerah dibandingkan dengan objek yang jauh dari sumbu kamera.
Sehubungan dengan sumbu kamera yang tegak lurus, maka ukuran objek yang lebih sesuai dan akurat adalah objek yang tegak lurus. Artinya semakin jauh dari sumbu tegak lurus dengan kamera, maka kesalahan ukuran makin besar. Oleh karena itu semakin jauh dari titik tembus suatu kamera (titik prinsipal) skala semakin kecil dan kesalahan (distorsi) pada foto udara bersifat radial.
Kedudukan sumbu kamera mempengaruhi skala, karena bila sumbu kamera tidak tegak lurus, maka jarak medan yang sama akan mempunyai perbedaan jarak pada foto udara. Panjang fokus merupakan perbandingan antara ketinggian objek dengan wahana.
Sumbu kamera berkaitan dengan sumbu liputan, semakin panjang fokus kamera, maka sudut liputan semakin kecil. Artinya lahan yang terliput semakin sempit dan sebaliknya. Sudut liputan mempengaruhi skala dan kerincian objek yang direkam, karena semakin kecil sudutnya liputan lahan semakin kecil, tetapi kemampuan mendeteksi objek semakin besar.
Ilmu yang berhubungan dengan Fotogrametri disini adalah Penginderaan Jauh. Penginderaan Jauh adalah ilmu, teknologi, dan seni dalam memperoleh informasi mengenai objek atau fenomena di permukaan bumi tanpa kontak langsung dengan objek atau fenomena yang dikaji, melainkan melalui media perekam objek atau fenomena yang memanfaatkan energi yang berasal dari gelombang elektromagnetik dan mewujudkan hasil perekaman tersebut dalam bentuk citra. Fotogrametri adalah salah satu (dari dua) teknik Penginderaan Jauh.
Hubungan antara Geografi dan Fotogrametri tidak berehenti sampai situ saja. Sebagaimana kita ketahui bahwa Geografi mencakup analisis tentang gejala alam dan manusia. Untunk menganalisis, sebelumnya diperlukan informasi yang banyak mengenai daerah atau objek yang akan dikaji (dianalisis). Untuk mendapatkan informasi-informasi itu, geograf membutuhkan gambaran mengenai objek tersebut yang didapatkan dari hasil Penginderaan Jauh, baik berupa citra satelit maupun citra foto, hasil dari Fotogrametri.
Dalam segi informasi, citra foto dari hasil Fotogrametri memiliki keunggulan yaitu dapat melihat kenampakan suatu objek secara tiga dimensi dengan fotostereo, dengan syarat daerah yang akan dikaji saling bertampalan searah jalur terbang (overlap) dan antar jalur terbang (sidelap). Hal ini memudahkan para geograf untuk menganalisis suatu daerah dan dapat mengumpulkan informasi dari hasil citra foto tersebut.
Dari uraian-uraian di atas, dapat dikatakan bahwa Geografi sebagai induk dari ilmu Fotogrametri. Salah satu dasar dari ilmu Fotogrametri adalah Ilmu Geografi, yang membuat kedua ilmu tersebut berkaitan erat. Kemudian, dapat dikatakan juga bahwa Geografi bergantung pada Fotogrametri dalam hal pengumpulan informasi suatu fenomena atau objek. Fotogrametri menghasilkan produk yang oleh para geograf dapat diolah dan dikaji, dan nantinya akan menghasilkan informasi yang bisa saja lebih memperkaya dan memperluas ilmu Geografi itu sendiri.
Menurut paine (1993) stereoskopi adalah ilmu pengetahuan tentang stereoskop yang menguraikan penggunaan penglihatan binocular untuk mendapatkan efek 3 dimensi (3D). penglihatan stereoskopi memungkinkan kita untuk melihat suatu obyek secara simultan dari dua perspektif yang berbeda, seperti dua foto udara yang diambil dari kedudukan kamera yang berbeda, untuk memperoleh kesan mental suatu model tiga dimensi.
Perwujudan penglihatan stereoskopis meliputi azas-azas mekanis maupun fisiologis. Pandangan mata normal manusia sebenarnya secara alamiah dapat merekam obyek secara stereoskopik. Hanya saja sering kali kita tidak memperhatikan kemampuan tersebut. Juga tidak semua manusia dapat melakukannya, terutama bagi mereka yang kemampuan matanya tidak seimbang.
Kesan kedalaman (depth perception) dalam stereoskopi terjadi karena titik titik yang terletak pada elevasi – elevasi yang berbeda telah mengalami pergeseran secara topografis dengan besaran dan arah yang berbeda pada foto-foto yang berurutan. Selisih didalam pergeseran disebut paralaks mutlak. Menurut Paine (1993) paralaks mutlak dalah selisih aljabar, diukur sejajar garis terbang (sumbu x) dan sumbu-sumbu y yang berkaitan untuk dua gambar dari suatu titik pada sepasang foto udara yang stereoskopis.
Untuk mengetahui besarnya paralaks mutlak dapat dilakukan dengan meletakkan jalur terbang pada foto. Sumbu x dari suatu titik adalah sejajar dengan arah jalur terbang. Setiap jalur terbang menjadi titik tengah dari foto-foto yang dihasilkan. Karena tampalan depan foto udara minimal 50%, maka setiap titik tengah foto udara akan terganbar pada foto berikutnya sebagai titi pindahan. Dengan menarik suatu garis dari titik tengah foto ke titik tengah pindahan berarti jalur terbang telah ditetapkan.

(Sumber : http://dony.blog.uns.ac.id )

Iklan